May 17, 2012

Our New Baby Born

by gelaph

Lama gak nge-blog di sini, bukan berarti gue jadi blogger murtad. Bukan juga males ibadah. Tapi karena gue lagi sibuk ngurus lapak sebelah, working-paper.com.

Dimoderatori oleh gue dan @myaharyono, working-paper.com (WP) ini berisi tentang kumpulan fiksi. Baik karangan kami berdua, ataupun oleh para penulis tamu yang listnya bisa dilihat di sebelah kiri bawah halaman blog, dengan label “meet our clients”.

Sebut saja @deardiar, @dendiriandi, @dheaadyta, @kartikaintan, @NH_Ranie, @romeogadungan, @saputraroy, dan @TiaSetiawati tercatat pernah menyumbangkan tulisannya.

Tulisan mereka dapat ditemui under ID “client”. Karena ceritanya kami berdua adalah auditor, dan para penulis tamu ini adalah kliennya.

Dari mana kamu akan tahu siapakah yang menulis sebuah cerita? Tenang, di sudut kanan atas ada sebuah  tanda. PBC. Prepared by Client. Dan ada juga akun Twitternya di sana. Tinggal klik follow aja. :D

Siapapun bisa menyumbang ceritanya untuk dipublikasikan di blog kami ini. Kontak aja @gelaph, atau @myaharyono. Bisa juga dengan meninggalkan pesan di kolom komen di bawah post ini. Atau mau meninggalkan komen di post yang mana aja juga nggak apa-apa. Asal kebaca sama kami aja sih. :P

Selain penulis yang beragam, blog ini juga berisi cerita bersambung antara gue dan @myaharyono. Jadi, Mia nulis cerita pendek, gue sambung tulisannya itu. Trus nanti Mia menyambung lagi cerita gue tersebut. Begitu seterusnya. Mia menulis dari sisi sang laki-laki, sedangkan gue dari sisi sang perempuan.

Agak tantangan sih buat kami berdua. Secara ya, Mia itu gaya nulisnya lebih romantis dan cewek banget. Sedangkan gue lebih cuek dan seenaknya, lebih ngena kalo jadi cowok kayaknya. Tapi, kami berdua sepakat untuk mencoba. Mia si laki-laki, gue si perempuan. We’ll see the result. :P

Cerita ini bisa dibilang semacam cerbung, tapi yang menulis dua orang. Di mana kami berdua nggak janjian soal plot atau karakter yang ada di cerita ini. Nanti arah ceritanya mau mengalir kemana, ya entahlah, hahaha.

Cerita bersambung ini dapat ditemui di kategori “estafet-working-paper”, sesuai dengan cara kami menyebutnya. Sejauh ini baru ada tiga cerita di sana. Masih jauh dari kata selesai. :P

Selain itu, kami menamai hal-hal di blog dengan penamaan yang tak lazim. Sebut saja “archive” yang kami sebut dengan “our filing cabinet, atau “authors” yang kami beri istilah “working-paper preparers”.

Ada juga  “new post”, yang kami sebut dengan “ready to be reviewed”. Jadi, setiap postingan baru kita, itu dianggap sebagai working paper atau kertas kerja yang telah selesai. Siap di-review oleh external reviewers. Siapa lagi kalau bukan kalian? :D

Di setiap sites, pasti ada “categories”. Kami memilih untuk mengganti “categories” menjadi “ledger and sub-ledger” di WP ini. Secara harfiah, ledger itu artinya buku besar. Semacam buku untuk mencatat saldo di akuntansi. Kalau di WP kami sih, itu maksudnya semacam “bagian” dan “sub-bagian”.

Terakhir, kami menamai field “comments” menjadi “review notes”. Tahu nggak review notes itu apa

Seorang auditor yang membuat sebuah WP alias kertas kerja, pasti akan di-review terlebih dahulu oleh atasannya, sebelum akhirnya merilis sebuah laporan keuangan. Dari hasil me-review WP, si pak boss biasanya akan memberikan komen. Pertanyaan ini itu, prosedur audit kurang, atau sampel perlu ditambah, dan lain sebagainya. Komen-komen si pak boss ini terangkum dalam satu file yang disebut review notes.

Makanya kami memutuskan untuk memakai istilah “review notes” sebagai pengganti “comments”. Isinya tentu saja tentang komen-komen yang pembaca tinggalkan di WP kami ini. :D

Yang pernah atau masih berprofesi sebagai auditor, pasti merasa sangat familiar dengan istilah-istilah tersebut. Buat yang bukan auditor, udah ngerti dong membaca WP kami? ;)

So, silahkan kunjungi our new baby born ini, karena dia lagi lucu-lucunya. :)

P.S: If you found GP code, it stands for Grahita Primasari, my full name; while MH means Mia Haryono. ;)

May 15, 2012

My Top 5 Imagination as a 5! :D

by gelaph

Twenty five years old. Officially, since eight days ago.

I’m just thinking… If I have to gift myself, it must be something silvery. Because, twenty five is usually associated with silver. (It’s not a #code, I tell you :P )

Well, when I do blog-walking, I oftentimes bump into these interesting lines.

God, in this 25 age, please bless me:

Faithfulness as 55,
Prudence as 45,
Maturity as 35,
Energy as 15,
and Imagination as 5.

So sweet yet very deep.

Therefore, in this happy-birthday-self post, I explore my imagination. Trying to be a five-year-old-fatty-cute-lil kid (again).

As a result, I’m gonna share you about five imaginary things I wanna have. They’re not kinda walk-in-the-air ability, breath-in-the-water power, or maybe get-into-somebody’s-mind energy. No. BIG NO.

But yeah.. quite similar, I admit. :P

Here we go! :D

 

1. Anti-injury body.

When I was a kid, I used to have so many scars on knees and elbows. (I bet you had it too! :P ). Many times, I stopped playing around just because I got hurt. Blister, bleeding skin, painful bones, you name it.

My memory goes to one day when my friends and I were playing hide-and-seek. Accidentally, I fell hard onto asphalt. Don’t ask me why, I even can’t remember.

As I know, at that moment, I cried hard. So hard, until one of my neighbor’s mom finally came, and took care of my bleeding knee.

Lately I think, if I got anti-injury body when I was a kid, I would be so much happier. Playing around everyday, with my smiley chubby face. Laughing hard, jumping high, running fast, never ever think about got injured. Oh, what a wonderful world. Can you imagine the joy and happiness I mean? :D

Although wise people say scars could be a reminder to be stronger, who cares?

Where’s my anti-injury body?! Give it to me! :D

 

2. Auto-reload chocolate box

I loved chocolate. Still in love, and will always do. Imagine a box full of chocolate, let’s say sized as a  standard suitcase. It would auto-reload itself when mini me grabbed any. Consisted of many kinds of chocolate. Milky chocolate bar, original dark chocolate, sweet choco candies, almond and peanut choco balls, choco pasta, creamy white chocolate, crunchy choco wafer, choco biscuits, and…. many more.

Ah, even my 25 me won’t refuse if she’s getting the box rite now (.__.)

 

3. Got Doraemon at home

Doraemon was one of my biggest dream. Oh well, okay, it has been being one of my biggest-yet-impossible wish since I was 5. Sunday morning at 8 o’clock, always been being my favorite time, until I was at college. That’s the time he’s on air on TV. I love him so much. And how his pocket always amaze me, is the reason.

“Mama, can I get Doraemon at home?” Mini me once asked my mom.

And she answered, “he’s just an imagination. Not real.”

Little me was so sad. It was just like, my dream is dead, being stabbed.

But suddenly, my dad put a Doraemon accessories in his car.
About 15 cm tall, attached at front window, and nodding his head when my dad braked the car.
I was so happy! Playing with him, scratching his belly, knocking his head, talking to him as he could answer my questions…

Oh, I loved my Doraemon! :D

 

4. Being an angel!

Kiddo me ever thought about “how beautiful life is if I’m an angel”. I don’t know why I was wanting to be one. Movies effect, maybe.

Can you imagine a lil fat girl, short-straight-black hair, with shiny transparent wings? And… you’re not forgetting about the magic wand, right? :D

Avadra kedavra!

Aha, you died. A kind-hearted lil angel had killed you. :P

 

5. Living in a beautiful cotton candy castle

Cotton candy castle as home was a great idea. Pink, soft, cloud-shaped, and…eatable. It also has two towers and beautiful ballroom for my friends and me playing indoor games. Such as barbies, lego, cards, etc.

Having home like that would keep away the accidental-banging-head-to-the-wall from me. As a bonus, I could make snacking time with the wall! And, don’t be scared. The cotton-candy-which–has–been-eaten is having ability to grow again. So, my castle wouldn’t fall to pieces.

That’s it. My top 5 imagination as a 5 y.o kid.

How about the 25 y.o. woman’s imagination inside me?

Hmmm.. I tell you, it could be not far away as “the-always-neat-hair-even-if-I-didn’t-comb”, or “the-debit-card-which-always-double-the-balance-when-being-used”, or maybe “a-power-to-put-everything-in-their-exact-place-with-a-blink.” Great wishes, yes?

At last, happy bday self! Be grateful for what you are, because…

You’re now twenty five, so…. keep alive! :D

April 16, 2012

Nonton… Nggak… Nonton… Nggak…

by gelaph

Gue selalu stress kalo nonton siaran berita tentang Indonesia. Nyaris nggak ada berita baik. Kayak tadi siang, gue nonton salah satu acara berita di stasiun TV swasta. Ini empat berita yang gue tonton:

  1. Berita pertama datang dari Medan. Ada Ketua DPRD Medan memukul seorang petugas bandara karena ia merasa dilecehkan ketika petugas tersebut memeriksanya. Hal ini dilakukan karena metal detector berbunyi pada saat Ketua DPRD lewat.

    Di rekaman kamera CCTV jelas terlihat bahwa si Ketua DPRD menempeleng sang petugas, namun ia mengelak telah melakukan pemukulan. Ya wajar gak ngaku sih, wong dia nempeleng, bukan mukul. #salahfokus :P

    Di salah satu portal berita, ada yang menulis bahwa si Ketua DPRD marah karena “anu”-nya diraba pada saat diperiksa. Tapi tadi pas gue liat beritanya di TV, hal itu nggak kerekam CCTV. Entah karena memang peristiwa tersebut tidak terjadi, atau videonya kepotong.

    Who knows?

    Yang gue sayangkan hanyalah kenapa si Ketua DPRD itu gak bisa mengontrol kelakuannya. Kesal sedikit, main pukul.

    Ya, apapun penyebab kesalnya ya. Entah karena ia merasa direndahkan karena harus diperiksa, atau karena diraba di tempat yang nggak semestinya. Kalau misalnya alasannya adalah yang pertama, karena merasa direndahkan apabila harus diperiksa, gue cuma punya satu kata untuknya: …helloooow?

  2. Buku pelajaran anak kelas 2 SD yang berisi cerita kontroversial Pak Maman dari Kali Pasir akhirnya ditarik.  Dan ditemukan cerita tentan Bung Going yang juga kontroversial di buku pelajaran anak kelas 4 SD. Kalau Pak Maman ada cerita tentang isteri simpanan, Bung Going ini menceritakan tentang keinginannya untuk menikahi pembantunya sebagai isteri kedua. *hening* *menarik napas panjang*
    Sedikit banyak, gue setuju kalau anak-anak harus dikenalkan sedini mungkin dengan budaya yang terdapat di masyarakat Indonesia. Budaya baik ataupun buruk. Sama seperti kisah isteri simpanan dan isteri kedua ini, karena hal tersebut memang benar-benar ada di masyarakat kita.

    Tapi, perlu dipikir lagi juga, apa pantas kalau hal tersebut dimasukkan ke kurikulum?

    Menurut gue, biarlah orang tua dan lingkungan terdekatnya yang mengajarkan hal-hal semacam itu. Biarlah ia belajar norma pantas dan tidak pantas, secara informal. Dari buku pelajaran seharusnya anak-anak hanya menerima kisah serupa Kancil Mencuri Ketimun, yang mengajarkan bahwa mencuri itu nggak baik. Atau serupa Pinokio, yang mengajarkan tentang pentingnya bersikap jujur.

  3. Berita ketiga datang dari kisruh APBN. Masih ingat sidang paripurna DPR yang membahas tentang perlu nggaknya kenaikan harga BBM baru-baru ini? Semua mata publik tertuju ke sana. Tapi tampaknya nggak ada yang ngeh kalo APBN untuk penanggulangan lumpur Lapindo mengalami perubahan. Satu koma enam triliun rupiah disetujui DPR untuk digulirkan dalam menangani lumpur Lapindo. Dan ini dianggap sebagai “pengganti” atas nggak disetujuinya kenaikan harga BBM di APBN.

    Politis, if you know what I mean. Silakan cari beritanya di portal-portal berita untuk info lebih lengkap dan akurat, karena gue udah keburu sakit kepala dengan berita-berita semacam ini.

  4. Ingat tokoh Pak Raden di film Si Unyil? Drs Suyudi, pemeran Pak Raden, dan juga pencipta tokoh Unyil, mengaku nggak pernah menerima royalti dengan dipakainya tokoh Unyil di berbagai siaran TV. Sekarang, ia sedang mengurus hak cipta dari tokoh ciptaannya itu.

    Beberapa hari yang lalu pun gue membaca di Twitter, kalo Pak Raden ini mengadakan acara Pak Raden Ngamen di kediamannya. Ia pun menjual berbagai merchandise Pak Raden di acara tersebut.

    Apapun tujuannya, hal ini gue anggap sebagai usaha untuk menyadarkan masyarakat Indonesia akan pentingnya hak cipta. Sulit memang, tapi bukan berarti nggak bisa.

Nah, dari empat berita yang gue tonton, apakah ada berita positif?

NGGAK ADA.

Yang ada gue malah stress sehabis nonton berita. Dan mengingat buku-buku ataupun artikel manapun selalu menganjurkan untuk menghindari stress, apakah itu berarti gue harus berhenti nonton berita?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,107 other followers