Inspiration – Perspiration

Thomas Alva Edison

Thomas Alva Edison

Edison

pics from biography.com


 
Genius is one percent inspiration and ninety nine percent perspiration.” -Thomas Alva Edison.

Reaksi pertama saya ketika membaca kalimat berbahasa londo tersebut adalah tertawa. Detik berikutnya saya menyadari bahwa ia memasukkan unsur memotivasi di dalam kata-katanya itu. Lalu selanjutnya saya mengerti bahwa ia hanya tengah merendah.

Hanya dengan satu kalimat di atas, saya tahu Edison adalah seorang jenius. Kejeniusan adalah gift dan ia adalah salah satu orang yang dapat menggunakan kelebihannya itu dengan baik. Selain menyelamatkan dunia dari kegelapan, literally; ia juga bisa melucu, memotivasi, sekaligus merendah dalam satu waktu.

Well, kalaupun saya bekerja keras membanting tulang sebanyak 99 kali dari inspirasi yang ada, saya tetap tak akan sejenius itu. It’s a gift.

Tapi terima kasih untuk motivasinya, Pak. Terima kasih juga untuk lelucon inspiration-perspiration nya.

Genius, witty, down-to-earth. That’s how I describe him based on his one single line. 

Funny, is it? 

[cerpen] Sisi Temaram Kota Tua

“HEH! MAU KE MANA LO?! JANGAN LARI!”

Suara pemuda berusia belasan menggelegar di belakang Sani dan Febri. Golok di tangan kanannya berkilauan tertimpa sinar matahari.

Kedua bocah lelaki yang duduk di kelas lima SD jika masih bersekolah ini pun lari tunggang langgang. Sekuat tenaga mereka berusaha menghindar dari kejaran sang pemuda tanggung. Dengan napas memburu dan keringat meleleh di dahi, mereka berbelok ke sebuah gedung tua sebagai tempat persembunyian sementara.

Daerah ini disebut Kota Tua tentulah ada alasannya. Tak lain adalah keberadaan gedung-gedung yang memang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Demikian pula dengan bangunan yang dimasuki oleh Sani dan Febri. Bercat putih kusam dan berbau apak dengan lumut yang menghijau di beberapa sisi, seolah belum pernah mengenal kata renovasi.

Mereka berdua menunggu dalam diam. Tak ada yang terdengar kecuali deru napas dan detak jantung masing-masing.

“Si Codet sudah pergi belum?” Sani bertanya lirih.

Febri memanjangkan leher, berusaha mencari tanda-tanda. Tak ada pertanda bahwa ada pemuda bertubuh tegap, kulit hitam, dengan bekas luka dua belas jahitan di pipi kiri, datang mendekat.

“Sudah. Sudah pergi,” jawab Febri mantap.

Sani menarik napas lega. Tubuh gempalnya merosot di tembok tempatnya bersandar. Sekadar ingin meluruskan kaki yang pegal karena baru saja berlari dengan sangat kencang.

Sementara Febri tidak langsung beristirahat. Ia mengamati keadaan ruangan seluas lapangan futsal tempat mereka bersembunyi. Keadaannya temaram, bahkan di saat matahari tengah pongah menunjukkan keperkasaan. Mungkin karena pencahayaan utama berasal dari pintu masuk yang sudah ia tutup rapat. Jendelanya pun ditutupi dengan kardus-kardus mie instan. Pencahayaan sekunder hanya berasal dari lubang udara di atas jendela.

Di dalam ruangan ini ada puing reruntuhan langit-langit yang sudah rusak. Ada juga tumpukan kayu yang entah darimana datangnya. Berserakan di balik salah satu pilar penyangga di tengah ruangan. Di sisi yang berseberangan dengan pintu masuk, ada semacam rolling door yang terbuka vertikal selebar kurang lebih satu meter. Febri melangkah melewati benda itu sambil berkomat-kamit mengucap doa.

Ada sebuah ruangan yang lebih kecil yang menyempit di kedua ujungnya. Mirip trapesium. Ruangan ini memiliki penerangan lampu minyak menempel di dinding. Sambil bergumam mereka hidup di zaman kapan lantaran keberadaan lampu minyak, Febri terus merangsek masuk. Di pojok ruangan, sebuah tangga melingkar terbuat dari besi menyambutnya. Tangga tersebut tidak menghubungkan ruangan dengan lantai di atasnya, melainkan dengan sebuah ruang bawah tanah.

Bocah berpostur tinggi kurus ini pun berjingkat mendekati anak tangga. Kemudian ia mengintip ke lantai bawah, berusaha mencari sesuatu yang mengusik rasa ingin tahunya.

“Feb! Ngapain lo?” Sani berseru tertahan. Ia masih berdiri di belakang rolling door. Belum berani menjejakkan kaki ke dalam ruangan tempat Febri berada.

“Sssst. Lihat sini cepet!”

“Nggak mau ah.” Febri melengos.

“Udah, sini!” Febri melambaikan tangan berulang-ulang. Memaksa sang sahabat untuk melihat apa yang tengah ia saksikan. Continue reading