Randomness

Antara Batere dan Kemandirian

Di lingkungan pertemanan kita, tentu aja ada at least satu lelaki
yang dicap takut isteri. Termasuk di lingkungan gue. Ada salah satu teman
lelaki -sebut saja dia A- yang mengkomentari teman lelaki yang lain -sebut
saja dia B. Si A berkomentar bahwa si B takut sama isterinya. Si B membela diri dari
celaan si A, “gue kagak takut isteri. Lo kali yang takut isteri.”

Gue kala itu hanya diam saja sambil tersenyum dalam hati. A gak
sepenuhnya salah. Wajar kalau dia menangkap B adalah suami yang takut isteri. Walaupun berdasarkan observasi gue, B bukan takut isteri, melainkan baterenya habis sama isterinya.

Hahaha apalagi deh ini istilah abis batere.

Gini. Pasangan yang ideal menurut gue adalah pasangan yang berbatere sama
kuat. Setara. Lebih bagus lagi kalau dua-duanya berbatere penuh. Jadi bisa
saling men-charge jika pasangannya sedang banyak masalah, stress
dengan urusan kantor, atau ada kesulitan lain yang butuh partner penopang
hidup. Pasangan tipe berbatere penuh ini akan tumbuh bareng dan sukses bersama.

Contoh paling nyata?

Barack dan Michelle Obama. Mereka salah satu pasangan yang berbatere super penuh menurut gue. Dua-duanya tumbuh bareng, sukses bersama, dan saling mendukung satu sama lain di kegiatan masing-masing. Ideal menurut gue.

Namun, apa yang terjadi apabila pasangan lo berbatere cenderung tipis, kudu
di-charge terus?

Jadinya ya capek. Abis batere. Energi yang seharusnya bisa buat
yang lain, jadi dipake buat nge-charge pasangan lo yang berbatere
kedip-kedip. Di awal hubungan mungkin si lelaki berasa jadi super hero,
merasa dibutuhkan.Β  Tapi dalam hitungan tahun, yang tersisa sih tinggal KZL-nya
aja kayaknya ya haha.Β Ini asumsi hubungan heteroseksual ya. Yang berasa superhero ya pasti si laki kan biasanya.

Dalam case temen gue tadi, isterinya memang tipe yang butuh banyak
perhatian. Bukan manja klemer-klemer gitu sih. Tapi lebih ke kurang mandiri
aja. Pergi ke mana-mana sendiri, takut. Tinggal di rumah sendirian, gak berani. Ditinggal laki ke luar kota, dia pindah nginep di rumah orang tuanya.

Yasalam. Heran gue.

Mungkin karena circle pertemanan gue isinya cewek-cewek mandiri kali ya. Jadi gue agak gak bisa relate dengan cara pikir yang serba dependent model gitu.

Ya bebas aja sih, kalo si laki nerima pasangannya yang segitu tergantungnya sama dia, ya gak apa-apa juga kan? Gak salah juga. Paling kita yang ngeliatnya aja jadi gemes dikit. Atau dalam case gue sih, gemes banyak haha.

Duh, gue paling gak bisa liat cewek tergantung kelewatan sama pasangannya. Butuh, pasti. Tergantung, jangan. Lo gak tau kan apa yang akan terjadi sama hubungan lo besok lusa. Yang biasa-biasa aja lah santai. Gak usah segitu tergantungnya.

…..abis ceramah gini biasanya gue langsung kualat nih. Gak lama lagi dapet pasangan yang bikin gue ketergantungan berat. HAHAHAHA.

Bodo amat.

Yang gue pingin tekankan ke cewek-cewek yang baca postingan ini adalah: jadi cewek mandiri ya, girls. Gak ada ruginya deh, bener. Kemandirian itu buat kebahagiaan lo sendiri kok. Gak tergantung dengan orang lain bikin hidup lo less drama dan less ribet.

Percaya deh. Serius gue.

——————————————————————————————————————

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s