August 20, 2014

Hukum Kekekalan Energi

by gelaph

Setiap orang pasti pernah merasa sedih. Atau marah. Atau kecewa. Atau stress. Atau (insert perasaan negatif di sini). Dan setiap orang pasti punya cara untuk mengalihkan perasaan itu.

Ingat kan salah satu prinsip fisika jaman sekolah? Hukum kekekalan energi kalo gak salah namanya.

Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Energi hanya dapat berubah wujud dari satu bentuk menjadi bentuk yang lain.

Well, gue gak googling lagi untuk sekadar tahu ini hukumnya siapa dan dari mana dia bisa menyatakan seperti itu. Tapi, anggap aja dia benar. Energi hanya dapat berubah wujud, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.

Dengan asumsi bahwa energi bisa berupa perasaan, dan perasaan merupakan bagian dari energi, maka gue dengan seenak dengkul gue menyimpulkan:
Kalau kita sedang, katakanlah tidak bahagia apapun penyebabnya, tentu kita berharap energi ini bisa diubah bentuknya menjadi bahagia.

Seperti yang gue bilang di atas, banyak cara untuk mengubah bentuk energi.
Ada yang melarutkan diri dalam kesibukan pekerjaan, ada yang berkumpul bersama teman-teman sekadar untuk melupakan kesedihan, atau ada juga merenung sendirian entah di mana sekadar untuk mendapatkan inner peace.

Kalau gue, cara gue untuk mengatasi energi negatif adalah dengan …. belanja.
*ditabok pembaca*

Satu lagi pengubah energi diri gue: makan es krim enak di mall. Pilih dua scoop rasa es krim yang gue paling suka, lalu duduk di pojok ruangan sambil merenung. Berpikir bagaimana caranya gue bisa membuat energi negatif dalam tubuh berubah bentuk menjadi positif.

Seringkali cara ini berhasil. Instantly, gue merasa bahagia walaupun lembar demi lembar rupiah tergerus atas nama pengobat energi negatif ini.

Energi kesedihan pun berubah wujud menjadi kebahagiaan.

Selesai “hura-hura” dengan diri sendiri, saatnya pulang ke kediaman. Namun, belum sempat menjejakkan kaki di pelataran kos, terlihat abang-abang penjual sepatu sandal keliling. Wajahnya nelangsa. Pendekatan jenius gue mengatakan bahwa barang dagangannya belum laku satu pun sore itu.

Si penjual yang gue perkirakan seumuran dengan gue berulang kali menawarkan sandal dan sepatu dagangannya ke orang-orang sekitar. Namun berulang kali pula ia mendapat anggukan sebagai tanda penolakan sopan.

Kasihan.

Melihat si penjual, pikiran gue langsung melayang ke berapa saldo rekening bank gue after hura-hura-pengubah-energi-sedih-menjadi-bahagia.

Begitu mendapat perkiraan saldo dan mengetahui berapa rupiah yang telah gue keluarkan demi mendapatkan energi kebahagiaan, tetiba energi tersebut berubah wujud untuk kedua kalinya.

Kali ini ia memilih untuk menjadi energi rasa bersalah.

Rasa bersalah menghinggapi hati lantaran melihat betapa kontradiktifnya kehidupan pedagang sandal dan sepatu tadi dengan gue. Betapa kecilnya “penderitaan” yang gue alami dibanding dengan si penjual.

Wajahnya terbakar matahari, badan hitam kurus kering, baju lepek karena keringat. Entah sudah makan belum dia hari ini. Sementara gue sudah makan es krim premium yang mungkin cukup untuk biaya makannya tiga hari. Dan tentengan belanjaan di tangan kanan kiri gue mungkin cukup untuk dia …

Sh*t.

Energi bahagia gue sudah benar-benar lenyap. Berganti dengan energi rasa bersalah.

Sesampainya di kos, gue meluruskan kaki sambil merenung lagi. Berpikir. Seperti biasa, berpikir. Karena Tuhan sudah begitu baik menganugerahkan otak yang sangat sayang kalau tidak digunakan untuk berpikir.

Hasil pemikiran gue mengatakan bahwa energi rasa bersalah tadi tidak seharusnya muncul. Seharusnya yang menempati ruang diri gue sekarang adalah energi syukur.

Bersyukur.

Bersyukur karena gue sebenarnya sangat beruntung. Orang tua sehat, keluarga lengkap, pekerjaan ada, penghasilan cukup, teman punya, sahabat juga punya, hobi bisa dijalankan. Dan daftarnya akan semakin panjang jika harus diketikkan.

Apa lagi yang harus dikeluhkan? Hal apa lagi yang layak membuat gue merasa sedih atau tidak bahagia?

Gak ada kan?

Gak ada.

Advertisements
March 20, 2014

Ih, ke Mana Aja Lo?

by gelaph

Gue udah pernah nulis tentang review film dan buku di blog ini. Kali ini, gue mau coba bikin (anggap aja) review tentang makanan favorit gue. Apalagi kalo bukan es krim Dairy Queen! Hahahaha #PantesGendut.

(Btw, es krim itu masuknya kategori makanan atau minuman ya?)

Ah sudahlah. Yang penting dia tetep favorit gue.

Dairy Queen Menu

Dairy Queen Menu

Gue inget banget perkenalan gue dengan Dairy Queen terjadi sekitar 4-5 tahun lalu. Gue dikenalin oleh sahabat gue (gue agak geli nulis kata sahabat, tapi ya kenyataannya begitu) si Dian PS di salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan, sebut saja namanya Yanti, singkatan dari Senayan City.

“Gel, beli Dairy Queen dulu yuk.”

“Dairy Queen? Apaan tuh?”

“Es krim! Enak banget!”

“Hah? Kok gue baru tau ya?”

“Ih, ke mana aja lo.”

“…”

Singkat cerita akhirnya kami berdua yang tirus-tirus itupun membeli es krim Dairy Queen. Gue bahkan masih ingat jenis, rasa, dan size-nya. Es krimnya jenis Blizzard Oreo rasa vanila dengan size regular. Harganya dulu IDR 25 ribu untuk size regular, yang mana lima tahun kemudian adalah harga untuk size small. Untuk ukuran regular sekarang dibandrol dengan harga IDR 35 ribu.

Yak. Silakan hitung inflasi yang terjadi sehubungan dengan harga Dairy Queen. Karena gue ogah banget untuk ngitungnya. Kalo makannya sih gue doyan.

Blizzard Nutella Waffle Crispy

Blizzard Nutella Waffle Crispy

Dairy Queen yang kali ini gue pesan adalah Blizzard Nutella Waffle Crispy.

Seperti biasa, si Mbak Kasir Dairy Queen selalu membalik gelas begitu es krimnya jadi. Herannya, walaupun gelas dibalik, es krimnya gak pernah tumpah. Tujuan si Mbak membalik gelas kayaknya sih untuk memberi tahu kalo es krim di dalam gelas itu padat berisi, nggak kopong di tengah.

Terjadi perpindahan gelas dari tangan Mbak Dairy Queen ke gue yang memang udah gak sabar mau menghabisi si es krim. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, gue refleks langsung memaki, “Anjrit! Enak banget sih nih es krim!” yang mudah-mudahan Tuhan mengerti bahwa itu adalah Alhamdulillah dalam bahasa gue.

Yang gue suka dari Blizzard Nutella yang ini, tektsurnya padat tapi lembut. Begitu masuk mulut, langsung meleleh tanpa perlawanan. Rasa cokelat manis yang menjadi bahan dasar es krim pun gak terlalu manis. Jadi menghabiskan satu gelas size large pun gak akan bikin enek. Malah bikin pingin nambah lagi kalo gak inget timbangan. Begitu semua zat enak itu meleleh di mulut, akan tertinggal something crispy yang tetap renyah walau terendam segelas besar es krim.

Sambil merem melek, gue perlahan-lahan menghabiskan satu gelas es krim regular. Sementara temen gue yang gak terlalu suka es krim, sebut saja namanya Si Dul, bertanya-tanya dengan heran.

“Emang seenak itu ya?”

Gue menyodorkan gelas Dairy Queen dan dia menggeleng sebagai jawaban.

“Duh, enak banget ya Dul kalo bisa delivery Dairy Queen. Gak perlu ke mall.”

“Lah kan bisa beli online.”

“Beli online?”

“Iya. Lo bisa beli online segala macem makanan di Foodpanda. Gak perlu angkat telpon apalagi harus ke mall. Google deh.”

“Beli makanan online di … apa tadi namanya? Foodpanda? Kok gue baru tau ya?”

“Ih, ke mana aja lo.”

“….”

And that’s how I got my second “ih, ke mana aja lo” related to my super fave dessert.

Tsk.

 

March 12, 2014

International Women’s Day

by gelaph

Dua hari lalu, gue terlibat meeting dengan Pak Boss, membahas review laporan keuangan yang membosankan. Di tengah-tengah pembahasan, Pak Boss yang Insya Allah lelaki tulen itu entah kenapa ter-distract dan memulai sedikit percakapan mengenai Hari Wanita Sedunia yang jatuh setiap 8 Maret.

Pak Boss: “Kemarin itu Hari Wanita Sedunia ya?”

Gue: “Ho oh.”

Pak Boss: “Aku heran, mereka itu selalu menuntut persamaan dengan laki-laki.”

Gue yang belum ngeh arah pembicaraan ini, bahkan gak tau siapa ‘mereka’ yang dimaksud beliau, hanya bisa ber-hmmm ria.

Pak Boss: “Menurut kamu Lap, cewek sama cowok itu sama nggak?”

Gue: “Nggak.”

Pak Boss: “Terus, cewek harus menuntut jadi sama nggak?”

Gue: “Ya enggaklah.”

Pak Boss: “Weis, pinter kamu.” Continue reading

%d bloggers like this: