Archive for ‘Reviews’

March 20, 2014

Ih, ke Mana Aja Lo?

by gelaph

Gue udah pernah nulis tentang review film dan buku di blog ini. Kali ini, gue mau coba bikin (anggap aja) review tentang makanan favorit gue. Apalagi kalo bukan es krim Dairy Queen! Hahahaha #PantesGendut.

(Btw, es krim itu masuknya kategori makanan atau minuman ya?)

Ah sudahlah. Yang penting dia tetep favorit gue.

Dairy Queen Menu

Dairy Queen Menu

Gue inget banget perkenalan gue dengan Dairy Queen terjadi sekitar 4-5 tahun lalu. Gue dikenalin oleh sahabat gue (gue agak geli nulis kata sahabat, tapi ya kenyataannya begitu) si Dian PS di salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan, sebut saja namanya Yanti, singkatan dari Senayan City.

“Gel, beli Dairy Queen dulu yuk.”

“Dairy Queen? Apaan tuh?”

“Es krim! Enak banget!”

“Hah? Kok gue baru tau ya?”

“Ih, ke mana aja lo.”

“…”

Singkat cerita akhirnya kami berdua yang tirus-tirus itupun membeli es krim Dairy Queen. Gue bahkan masih ingat jenis, rasa, dan size-nya. Es krimnya jenis Blizzard Oreo rasa vanila dengan size regular. Harganya dulu IDR 25 ribu untuk size regular, yang mana lima tahun kemudian adalah harga untuk size small. Untuk ukuran regular sekarang dibandrol dengan harga IDR 35 ribu.

Yak. Silakan hitung inflasi yang terjadi sehubungan dengan harga Dairy Queen. Karena gue ogah banget untuk ngitungnya. Kalo makannya sih gue doyan.

Blizzard Nutella Waffle Crispy

Blizzard Nutella Waffle Crispy

Dairy Queen yang kali ini gue pesan adalah Blizzard Nutella Waffle Crispy.

Seperti biasa, si Mbak Kasir Dairy Queen selalu membalik gelas begitu es krimnya jadi. Herannya, walaupun gelas dibalik, es krimnya gak pernah tumpah. Tujuan si Mbak membalik gelas kayaknya sih untuk memberi tahu kalo es krim di dalam gelas itu padat berisi, nggak kopong di tengah.

Terjadi perpindahan gelas dari tangan Mbak Dairy Queen ke gue yang memang udah gak sabar mau menghabisi si es krim. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, gue refleks langsung memaki, “Anjrit! Enak banget sih nih es krim!” yang mudah-mudahan Tuhan mengerti bahwa itu adalah Alhamdulillah dalam bahasa gue.

Yang gue suka dari Blizzard Nutella yang ini, tektsurnya padat tapi lembut. Begitu masuk mulut, langsung meleleh tanpa perlawanan. Rasa cokelat manis yang menjadi bahan dasar es krim pun gak terlalu manis. Jadi menghabiskan satu gelas size large pun gak akan bikin enek. Malah bikin pingin nambah lagi kalo gak inget timbangan. Begitu semua zat enak itu meleleh di mulut, akan tertinggal something crispy yang tetap renyah walau terendam segelas besar es krim.

Sambil merem melek, gue perlahan-lahan menghabiskan satu gelas es krim regular. Sementara temen gue yang gak terlalu suka es krim, sebut saja namanya Si Dul, bertanya-tanya dengan heran.

“Emang seenak itu ya?”

Gue menyodorkan gelas Dairy Queen dan dia menggeleng sebagai jawaban.

“Duh, enak banget ya Dul kalo bisa delivery Dairy Queen. Gak perlu ke mall.”

“Lah kan bisa beli online.”

“Beli online?”

“Iya. Lo bisa beli online segala macem makanan di Foodpanda. Gak perlu angkat telpon apalagi harus ke mall. Google deh.”

“Beli makanan online di … apa tadi namanya? Foodpanda? Kok gue baru tau ya?”

“Ih, ke mana aja lo.”

“….”

And that’s how I got my second “ih, ke mana aja lo” related to my super fave dessert.

Tsk.

 

Advertisements
December 28, 2012

5 cm the Movie: Sorry to Say

by gelaph
5cm-movie-poster

5 cm Movie Poster

Minggu lalu gue akhirnya nonton 5 cm the movie. Gue belum baca novelnya, tapi sekarang gue mau nulis review filmnya aja. Buat yang belum nonton tapi ada niat untuk nonton ke depannya, jangan baca tulisan ini dulu deh. Spoiler di mana-mana soalnya haha.

5 cm sendiri sebenarnya merupakan film adaptasi dari novel yang berjudul sama karangan Donny Dhirgantoro. Ceritanya berkisar tentang kehidupan lima sahabat yaitu Genta (Fedi Nuril), Ian (Igor Saykoji), Zafran (Herjunot Ali), Arial (Denny Sumargo), dan Riani (Raline Shah).

Kelima sahabat ini diceritakan sangat dekat, sudah sepuluh tahun bersama. Ke mana-mana bareng. Bareng ke mana-mana. Halah. Nah, saking dekatnya, mereka jadi bosan. Genta mengusulkan agar mereka tidak ketemu dan saling kontak dulu selama tiga bulan. Genta selaku yang punya ide, merahasiakan tempat pertemuan mereka tiga bulan lagi.

Singkat cerita, ternyata Genta “memaksa” mereka ke puncak tertinggi Jawa. Mahameru. Yap. Tempat pertemuan yang dirahasiakan itu ternyata adalah Mahameru. Puncak tertinggi Gunung Semeru.

Walaupun sekawanan ini, terutama Ian, jarang berolah raga, mereka semua sampai dengan selamat di puncak Mahameru. Sempat ada kejadian dramatis dengan matinya Ian lantaran tertimpa bebatuan yang runtuh. Semua temannya sudah sedih. Nangis-nangis gak karuan. Tapi ternyata dia gak jadi mati. Cuma pingsan ternyata. Hahahaha. Untuk transisi dari tragedi ke komedinya di scene yang ini sih gue suka. Dapet dodolnya.

Selain naik-naik gunung, tentunya ada percikan romansa di antara mereka. Seperti Genta yang ternyata naksir Riani dan akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaannya. Tapi ternyata Riani malah naksir Zafran. Ternyata lagi, adeknya Arial yaitu Dinda (Pevita Pearce) menaruh hati kepada Genta. Padahal sepanjang film, penonton seperti digiring bahwa Dinda akan bersama dengan Zafran dan Genta akan bersama Riani. Tapi ternyata enggak. Ya ending-nya nge-twist gitulah.

Yak, yang barusan itu super spoiler! Buat yang belum nonton, nyesel kan udah baca? Bhahahahahahak.

Oke, sinopsis filmnya cukup sampai di sana. Sekarang mulai opini gue dari beberapa aspek. *kibas poni*

Dari segi cerita, 5 cm bagus. Bagus banget malah gue bilang. Tapi dari segi eksekusi film, sorry to say, 5 cm sangat tidak memuaskan. Gue ulangi. Sangat tidak memuaskan.

Kenapa gue bilang gitu?

read more »

October 27, 2012

Ini Rasa Cintaku. Apa Rasa Cintamu?

by gelaph

Beberapa waktu yang lalu, gue membaca buku yang berjudul Rasa Cinta. Merupakan kumpulan cerita pendek -yang memang lagi booming banget akhir-akhir ini- namun dengan tema yang belum pernah diangkat sebelumnya: tentang makanan dan cinta. Ini nih keterangan tentang bukunya. :D

Rasa Cinta

Rasa Cinta

Judul                   : Rasa Cinta
Penulis                : Ariev Rahman, Roy Saputra, dkk
Penerbit              : Bukune
Kategori              : Fiksi, Romance
Tahun Terbit        : 2012
Halaman              : 276
Ukuran                 : 13 x 19 cm
Harga                   : IDR 45.000
ISBN                     : 602-220-069-5

Bukunya sendiri dibagi menjadi tiga bagian besar: appetizer, main course, dan dessert. Trus, yang paling banyak menyumbang tulisan sih Ariev dan Roy ya kayaknya, berturut-turut dengan 7 dan 6 cerita secara keseluruhan.

Dan kali ini, gue (dengan sotoynya) mau membahas pendapat gue mengenai buku ini. Mungkin akan gue bahas satu per satu sesuai urutan nama chef yang tercetak di buku.

Here we go!

1.         Ariev Rahman – @arievrahman – Chef Tingkat Tinggi

Chef Tingkat Tinggi kayaknya istilah yang cocok untuk lelaki yang bekerja di instansi pemerintahan ini. Kenapa? Soalnya tulisannya emang tingkat tinggi bok. Lo kadangkala harus membaca ulang biar bisa menangkap maksud tersirat dari semua masakannya.  Gak cuma tulisan, bionya di cover Rasa Cinta pun itu “Ariev” banget. :P

Well, ‘cerpen mikir’ ala Ariev bukanlah berupa cerita yang memaksa lo mikir lantaran diksinya ketinggian, atau tata bahasanya yang njelimet. Tapi pure karena plotnya itu sendiri. Hmmm. Atau lebih tepatnya karena cara penyampaiannya yang menggunakan alur maju mundur, yang merupakan signature-nya di buku Rasa Cinta.

Tercatat Nasi Goreng Buatan Ibuku Paling Enak Sedunia dan Sehari Bersamanya dimasak dalam alur maju mundur khas Ariev. (Judul lain juga ada deh kayaknya, nanti deh gue update kalo lagi berdekatan dengan buku Rasa Cinta :P)

Fave dish gue dari Chef Ariev, tak lain dan tak bukan adalah pizza di Semua yang Kulakukan Untukmu Adalah Atas Nama Cinta. Sebuah cerita detektif-detektifan yang melibatkan pizza beracun sebagai modus operandi pembunuhan. Di cerita yang ini, Ariev gak bermain dengan alur maju mundur. Tapi tulisannya bergaya Sherlock Holmes banget deh kalo gue bilang.

Eh, yang barusan itu spoiler gak ya? Hmm, enggak ah kayaknya.  *nanya sendiri jawab sendiri*

Anyway, cerita detektif ini layak dapat bintang -pertanda enak banget- di daftar menu Rasa Cinta karena ke-anti mainstream-annya. Iya dong. Jarang-jarang kan baca cerpen detektif-detektifan? :D

2.        Roy Saputra – @saputraroy –  Chef Segala Gaya

Keliatan banget kalo seorang Roy Saputra sedang bersenang-senang di buku ini. Dia mencoba segala gaya cerita demi memuaskan otak kanannya. Eksperimen, Laph! Eksperimen! Itu pasti jawabannya kalo ditanya tentang gaya cerpennya yang macem-macem banget di Rasa Cinta.

Di 97 Kata yang Tak Sempat Aku Ucapkan di Restoran Seafood Kemarin Malam, Roy meramu masakan laut dalam sebuah surat cinta yang manis. Yah, manis tapi tetep ngehe sih. Roy bangetlah. *emot muka selebar jembatan layang*. Selain itu, dia juga membuat cerita semacam obrolan di messenger dalam Percakapan yang Tak Pernah Selesai. Iya, jadi kayak bales-balesan chat antara tokoh utama pria dan wanitanya.

Surat, udah. Chat, ada. Apa lagi

Ada cerita-cerita pendek yang bersambung! Ho-oh. Trilogi cerpen tentang Aji-Dimas-Yanti yang masing-masing bisa berdiri sendiri namun sebenernya ceritanya nyambung. Bingung? Baca sendiri deh biar ngerti gue ngemeng apaan, hahaha.

Nah. Kalau kekuatan Ariev ada di alur maju mundur, Roy sangat menonjol di pembelokan alur. Cerita-ceritanya dibuat beralur berkelak-kelok sedemikian rupa sehingga cenderung unpredictable.

Karya yang paling gue suka dari seorang Chef Roy adalah tentang Slurpee di Skenario yang Salah Tentang Pilihan yang Tak Pernah Salah. Ho oh, doi nulis tentang Slurpee-nya Seven Eleven! Hahaha.

Alasan gue suka cerpen yang ini, sederhana saja. Karena cerpen ini yang tetep bikin gue berteriak dalam hati “NGEHE EMANG LU ROY!” pas selese baca; bahkan walau gue telah pernah mencicipinya dalam bentuk setengah matang. Ya. Gue yang baca ulang aja masih teriak NGEHE! – in a good way-, apalagi yang baru baca?

Satu bintang gue kasih untuk Slurpee! :D

3.        Dwika Putra – @dwikaputra – Chef Spesialis Rasa Pahit

Ada tiga masakan yang dibuat oleh Chef Dwika di Rasa Cinta. Semuanya bitter. Pahit. Ada Sepotong Roti Bakar Cokelat Keju yang berkisah tentang pasangan berbeda keyakinan. Keyakinan dalam arti agama ya, bukan beda keyakinan tipe-tipe “gue yakin gue sayang dia, tapi sayangnya dia enggak”. Pffft.

Ada juga bait-bait rhyme yang (tetap) dia buat dengan balutan rasa pahit.

Namun, yang cukup menjadi makanan favorit gue dari Chef Dwika adalah Mie Tarik Jarak Jauh yang berkisah tentang jatuh-bangun-keplesetnya pasangan LDR (Long Distance Relationship). Tentang perjuangan tokoh ceritanya menghadapi rumitnya hubungan terpisah jarak dengan sang belahan jiwa.

Hmmm. Sebenernya sih yang gue suka banget dari seorang Chef Dwika adalah analoginya tentang rasa terhadap cinta. Di cerita pertamadia menganalogikan bahwa relationship itu seharusnya seperti sepotong roti bakar cokelat keju. Renyah kres kres di luar, namun empuk di dalam. Rasa manis pahit gurihnya pun pas, tidak hambar di lidah.

Sementara di cerita kedua, dia menganalogikan LDR itu dengan mie tarik. Bahwa sesungguhnya pasangan-pasangan yang terpisah oleh jarak, jangan telalu menarik kencang-kencang hubungan tersebut. Harus pas, kalo enggak ya bakal rusak. Sama kayak pengalaman tokohnya yang belajar membuat mie tarik namun gagal karena tarikannya gak pas, terlalu kuat.

Satu bintang untuk analogi-analogi Dwika dalam Rasa Cinta! :D

4.        Anita Prabowo – @ijotoska – Chef Spesialis Jeroan

Kok bisa-bisanya gue bilang Anita ini Chef Spesialis Jeroan? Bukan. Bukan berarti dia menulis cerita khusus jeroan, namun karena cerita-cerita yang ia sajikan, itu berkisar antara  pergulatan antara hati dan otak. Jeroan! Hahaha.

Jadi, ada dua cerita yang bertema jeroan ini, yaitu Kopi Hitam Tanpa Gula dan Lima Ratus Tujuh Puluh TigaKopi Hitam Tanpa Gula berisi analogi cerdas mengenai pergumulan otak dan hati. Namun gue lebih memfavoritkan Lima Ratus Tujuh Puluh Tiga yang berkisah tentang seorang wanita yang meninggalkan kekasihnya karena takut gak mendapat restu dari ibunya lantaran mereka berdua berbeda keyakinan. (Kepanjangan gak tuh kalimat gue barusan? haha)

Cerpen ini merupakan cerita terpanjang di Rasa Cinta. Puluhan halaman bok! Hehe. Yang agak ngeganjel adalah, cerpen ini ber-flow lambat di awal, namun tiba-tiba beralur cepat di bagian penyelesaian. Mirip kalo lagi treadmill, di awal dikasih speed 2, pas di akhir tiba-tiba harus lari dengan speed 5. Agak gimana gitu gue ngerasanya. But anyway, yang penting feel-nya dapet. :D

Satu bintang lagi di buku menu Rasa Cinta untuk Lima Ratus Tujuh Puluh Tiga! :D

5.        Wandy Ghani – @popokman – Chef Khusus Makanan Ringan

No, no. Bukan berarti Wandy khusus nulis tentang makanan ringan di Rasa Cinta. Tapi, masakannya lah yang memang ringan.  Kalau ada istilah easy listening untuk lagu, mungkin tulisan Wandy ini tergolong easy reading.

Ada dua cerita yang ia sajikan di Rasa Cinta. Kedua ceritanya ngalir, gak mikir, kocak cenderung geblek, khas Wandy banget. Agak di luar dugaan sih, karena gue expect tulisannya bakal mellow-manis-romantis-kinyis-kinyis kayak twit-twitnya di bawah akun @popokman.

Kuliner yang gue suka banget dari Chef Wandy adalah tahu di Siluman Tahu. Bercerita tentang seorang lelaki yang memiliki boss cewek yang supergalak, tapi ternyata boss ceweknya itu kayak tahu. Ho oh, kayak tahu yang terbuat dari olahan kedelai itu lho. Hmmm, kok bisa bossnya kayak tahu? Hehehe. Baca sendiri deh. Asik pokoknya. :P

Satu bintang untuk Siluman Tahu! :D

6.        Dewi Subrata – @dewisubrata – Chef Kelas Berat

Kekuatan Chef Dewi ada di diksinya yang di atas rata-rata yang membuat masakannya jadi agak terasa berat. Well, gak berat-berat amat, tapi lumayan bikin gue mikir pas baca. Beda dengan sajian Chef Ariev yang bikin ‘mikir’ pake otak kiri, masakannya Chef Dewi kudu dipikirin pake otak kanan.

Anyway, beliau ini keliatan banget sih kalo kosakatanya banyak, soalnya dia menyajikan beberapa prosa di Rasa Cinta. Dan entah kenapa, gue memang selalu mikir kalo orang yang sering nulis prosa, puisi, sajak, atau sejenisnya itu pasti berdiksi tinggi. Karena kalo yang diksinya rata-rata pasti sulit menemukan kata-kata indah untuk dibuat prosa. Beda dengan cerpen yang bisa ditulis dengan bahasa paling sederhana sekalipun.

Nah. Walaupun bukan penggemar tulisan-tulisan bertipe puitis manis romantis, gue bisa bilang bahwa surat balasannya untuk Roy itu manis, pake banget. Manis banget.

Ho oh. Chef Dewi memasakkan hidangan sea food balasan untuk Chef Roy dalam bentuk surat. Judulnya, Untuk Lelaki yang Hatinya Kupinjam Kemarin Dulu. Surat ini merupakan balasan manis untuk surat-manis-tapi-ngehe-nya Roy,  97 Kata yang Tak Sempat Aku Ucapkan di Restoran Seafood Kemarin Malam yang udah gue sebut di atas. :D

Yak! Satu bintang favorit untuk Untuk Lelaki yang Hatinya Kupinjam Kemarin Dulu! :D

*redundant kata ‘untuk’* pffft.

7.        Lolita Lavietha – @tlvi – Chef Spesialis Tusuk-Menusuk

Untuk followers Loli di Twitter, pasti sangat kenal dengan twit-twitnya yang lugas cenderung pedas. Nah, tulisannya di Rasa Cinta kurang lebih kayak twit-twitnya. Pendek. Pahit. Pedes. Nusuk. Cewek banget.

Sama kayak sajian Chef Anita dan Dwika, masakan yang ada rasa pahitnya gini sebenarnya bukan my cup of tea. Mungkin karena gue gak suka yang pahit-pahit; kayak pare, atau masa lalu. Tapi, gue selalu suka dengan quotes pedas ala Loli. Contohnya kayak di cerita Gengsi dan / atau Kangen, ada hal menarik yang dia bahas tentang nasi goreng spesial.

Nasi goreng yang benar-benar spesial, tidak perlu disebut-sebut spesial. Nasi goreng saja kok butuh pengakuan.

Kahahahahampreeet! :D

Dan sebenarnya ada satu analogi tentang cinta yang gue suka banget, tapi gue lupa persisnya gimana. *emot muka datar*. Akan gue update secepatnya di sini begitu gue berdekatan dengan buku Rasa Cinta! *emot tangan terkepal*

Anyway, satu bintang untuk kata-kata Loli yang quotable! :D

***

Yak, selesai sudah pendapat lidah gue tentang masakan-masakan para chef Rasa Cinta. :D

Last but not least,  dibuka dan diakhiri dengan cerita tentang Leo dan Alena oleh Chef Ariev, buku ini layak dapat 4 dari 5 bintang! Yay!

…ada yang protes gak, kenapa dapet 4 bintang padahal dari tadi kayaknya gue bagi-bagi banyak bintang di atas?

Hmm, jadi gini. Para chef dengan kekuatan masing-masing kan dapet satu bintang. Itu udah  7 kan tuh? Satu bintang lagi ditambahkan untuk variasi cerita dan gaya penulisan yang gue dapetin dari Rasa Cinta. Gak ngebosenin banget. Jadi, 8 bintang toh?

Nah, kalo ada review yang ngasih nilai 8 dari 10 bintang, sebenernya itu bisa disederhanain jadi 4 dari 5 kan? Bener kan? :P

Well anyway, ini Rasa Cintaku. Apa Rasa Cintamu? :D

______________________________________________________________________________________

P.S: review ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan @dianps yang sedang berada di dekat buku Rasa Cinta. :P

%d bloggers like this: