Reviews

Sapiens (Part 1): The Cognitive Revolution

Seperti yang telah gue ceritakan pada postingan sebelumnya, gue tertarik untuk membaca buku Sapiens: A Brief History of Humankind yang happening banget beberapa waktu ini.

Book Cover
Sapiens: A Brief History of Humankind

Buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari ini membahas tentang sejarah peradaban manusia yang dibagi menjadi 4 bagian: The Cognitive Revolution, The Agricultural Revolution, The Unification of Humankind, dan The Scientific Revolution.

Gue telah menyelesaikan bagian pertama yaitu The Cognitive Revolution dan menurut gue buku ini bagus banget. Gak tahu ya kalo nanti di pertengahan atau di akhir buku gue berubah pikiran.

Tapi sejauh ini sih gue suka sama buku ini.

Untuk membacanya emang kudu punya pikiran terbuka dan gak baperan terhadap agama dan kepercayaan. Mari gue ceritakan item-item yang menurut gue menarik di buku ini.

Pic 1
An Animal of No Significance

Halaman awal buku dibuka dengan menceritakan bahwa manusia di 2 juta tahun yang lalu itu merupakan hewan yang gak ada penting-pentingnya. (Gue baru nyadar kalo diartiin ke bahasa Indo kok agak ngeselin juga ya, “hewan yang gak ada penting-pentingnya”). Kalo bacanya dalam bahasa Inggris “an animal of no significance” gue gak berasa apa-apa. Emang bacanya gak usah di-translate kali ya harusnya, haha.

Inget penamaan ala Biologi jaman sekolah dulu? Homo Sapiens. Kata pertama menunjukkan genus, kata kedua menunjukkan species. Itu penamaan standar untuk organisme hidup, di mana kita Sapiens merupakan keluarga dari geng para kera.

Walaupun bersaudara dengan monyet, manusia punya genus sendiri. Homo berarti man, Sapiens berarti wise. Jadi, homo sapiens artinya wise man. Sungguh tindakan kurang bijaksana menamai diri sendiri manusia bijaksana haha.

Diceritakan pada foto di atas kalau manusia jaman dulu itu kelakuannya gak jauh beda sama manusia jaman sekarang. Emak-emak ngurus anak, cowok-cowok ngincer cewek-cewek, abege yang sok-sok rebel, orang tua yang udah makan asam garam kehidupan, di mana menurut gue itu sama banget sama kelakukan manusia jaman sekarang.

Tapi kelakuan itu gak menonjol kalau dibandingkan dengan hewan-hewan lain. Mau simpanse, babon, dan gajah juga kelakuannya kayak gitu. Gak ada bedanya kelakuan manusia jaman dulu dengan hewan lainnya.

Penulisnya sampe menggarisbawahi, manusia jaman prasejarah tuh gak ada penting-pentingnya. Gak ada bedanya sama gorila, kunang-kunang, even ubur-ubur. Hanjirlah, ubur-ubur banget nih bandingannya haha.

Gak ada potongan banget deh kalo turunan manusia itu ternyata sekarang bisa nyampe ke bulan, membelah atom (bagian terkecil dari suatu benda), sampe nulis buku sejarah.

Tapi ternyata walaupun punya banyak kesamaan, ada juga hal yang membedakan manusia dengan hewan lain. Foto di bawah ini menceritakan salah satu perbedaannya.

20190124_233346
Walk with Two Feet

Yak. Yang membedakan manusia dengan hewan adalah manusia bisa jalan dengan dua kaki!

Itu membuat manusia jadi lebih leluasa menggunakan tangannya untuk kegiatan lain. Bisa buat lempar batu, kirim sinyal ke temen, bikin alat-alat yang berguna buat hidup mereka. Ngapain kek. Tangannya bebas ini. 

Dibanding dengan gajah, singa, cheetah, hyena, dan hewan lainnya, manusia memiliki keunggulan berdiri dengan dua kaki. Hal ini juga bikin manusia jadi punya cakrawala pandangan yang luas dibanding hewan lain. Jadi lebih bisa awas aja kalo ada bahaya menghadang di depan. Makanya lebih bisa bertahan hidup dibanding hewan-hewan lain yang cakrawala pandangnya gak seluas manusia.

Pic 3
Human’s Communication

Pic 4

Trus kelebihan manusia dibanding dengan hewan lain adalah: kita bisa berkomunikasi dengan lebih baik.

Monyet bisa ngasih tahu temannya, “awas, ada singa!”

Tapi manusia?

Kita emang harus bersyukur leluhur kita dulu dikasih kemampuan lebih sama Tuhan untuk bisa berkomunikasi.

Manusia bisa menceritakan kepada temannya, “tadi pagi gue liat singa di pinggir sungai lagi ngincer bebek”. Informasi ini bisa digunakan gengnya untuk pengambilan keputusan.

Mereka mau main ke pinggir sungaikah, mau bobok-bobok lucu aja di rumah biar gak digigit singa, atau malah ngerjain singa di pinggir sungai dan ngembat bebek lucu calon makan siang si singa? (Di foto nyeritainnya pake bison, gue pake bebek. Bebas lah Gel, bebas. Suka-suka lo aja yang punya blog haha.)

Hal di atas gak bisa dilakukan oleh geng para monyet, soalnya mereka gak bisa bertukar informasi tentang waktu dan tempat. Otaknya gak nyampe. Makanya manusia lebih bisa bertahan hidup dibanding monyet, ya gara-gara kita bisa berkomunikasi dengan lebih baik.

Trus disebutkan juga bahwa kita belum punah sampe sekarang, salah satunya karena manusia suka bergosip.

Gosip semacam singa ngincer bebek di atas pokoknya nyampe aja ke sesama manusia.

Gossiping saves our lives. Can you imagine that? 

Hal menarik lain yang gue dapet adalah, manusia bisa bertahan sampai sekarang karena mereka percaya fiksi.

Pic 4

Lo gak bisa meyakinkan monyet kalo dia mau ngasih lo pisang, si monyet setelah mati bakal dapat pisang tanpa batas di dalam surga para monyet. Karena apa? Monyet gak percaya fiksi semacam itu, haha.

Ini dammit pertama gue dalam membaca buku ini. Gilinglah ini yang nulis ya. Surga diindikasikan sebagai fiksi. Untung dia gak kenal emak gue, bisa kena baca ayat kursi kali tu orang haha.

Apa hubungannya percaya fiksi dengan kebertahanan hidup manusia?

Jadi, penulis menjelaskan kalau manusia bisa berkumpul dengan baik dengan orang lain yang percaya akan fiksi yang sama.

Keberkumpulan membuat manusia jadi lebih bisa bertahan hidup. Ya semacam “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” lah. 

20190124_233549
Fiction?

20190124_233706

Penulis bahkan memperkenalkan istilah yang baru gue denger yaitu objective reality dan imagined reality. Objective reality gue terjemahkan bebas menjadi kenyataan yang ada bentuknya alias benda-benda yang “kasat mata”. Misalnya singa, sungai, nasi goreng, roti, es krim, cokelat, ayam goreng. (Gue laper, jadi maap aja kalo contohnya kebanyakan makanan).

Sedangkan imagined reality itu kenyataan yang hanya ada di imajinasi manusia. Kenyataan sih, beneran, tapi bentuknya cuma ada di imajinasi manusia. Contohnya: tuhan-tuhan (dia nulis god pake huruf G kecil haha), negara, dan perusahaan.

Kenapa dia bilang Tuhan, negara, dan perusahaan cuma “kenyataan yang ada di imajinasi manusia”?

Aduh, ini dammit kedua gue di buku ini.

Dia menceritakan bahwa ribuan orang yang gak saling mengenal bisa berkumpul di Perang Salib. Para manusia yang gak saling tahu, berperang dalam membela kemerdekaan negara Libya.

Ribuan manusia bisa berkumpul karena percaya akan imajinasi yang sama berada di kepala mereka. Gak ada bentuknya gitu maksudnya. 

Penulis menyebut kalo gereja itu berakar dari”common religious myth“. 

Jadi para manusia yang sama-sama percaya dengan ajaran agama Katolik, bisa bersatu padu untuk ngumpulin sumbangan walaupun mereka gak saling kenal. Mereka bisa berkumpul karena percaya pada ide Tuhan menjelma sebagai manusia dan mengorbankan dirinya demi menebus kesalahan-kesalahan umatnya.

Makanya penulis mengkategorikan Tuhan dan ajaran agama sebagai imagined reality. Kenyataan yang berupa imajinasi di kepala manusia yang menguatkan ikatan di antara mereka.

Trus misalnya negara.

Apa sih bentuk kasat mata dari negara?

Bendera? Bukan. Lambang negara? Boro-boro. Presiden? No.

Karena apabila bendera dibakar, lambang negara dihancurkan, dan presiden meninggal; apakah berarti suatu negara hilang?

Nggak.

Negara terbentuk dari sekelompok besar orang yang mempunyai imajinasi yang sama bahwa mereka percaya perkumpulan mereka dinamai negara Libya, atau negara Indonesia.

Iya, negara itu imajinasi. Kenyataan, tapi hanya ada di imajinasi sekelompok manusia yang percaya bahwa imajinasi itu nyata.

Perusahaan, yang dia jadikan contoh adalah Peugeuot si produsen mobil.  Peugeuot itu imajinasi. Karena gak ada bentuk kasat matanya.

Head-office building-nya Peugeuot? Itu bukan bentuk kasat mata dari Peugeuot. Manajemen dan pemegang saham? Bukan juga. Karyawan? Apalagi. Bukan lah.

Soalnya kalau head-office building dimusnahkan, Manajemen dan pemegang sahamnya ganti, atau karyawannya resign semua; apakah berarti Peugeuot hilang?

Nggak.

Bangunan, Manajemen dan pemegang saham, serta karyawan; semua itu bukan Peugeuot. Peugeuot bisa bikin bangunan lain, bisa punya Manajemen dan pemegang saham baru, serta bisa merekrut karyawan tanpa ada issue bahwa Peugeuot hilang dari peradaban. Peugeuot tetap eksis.

Jadi apa itu Peugeuot?

Peugeuot adalah imajinasi.

Kenyataan, tapi imajinasi. Imajinasi dari sekumpulan manusia yang percaya bahwa ada hal tak kasat mata, gak ada bentuknya, tapi ia memproduksi mobil yang dipasarkan di seluruh dunia.

Begitupun dengan perusahaan-perusahaan lain di dunia, itu semua terbentuk di dalam imajinasi manusia.

Kemampuan berimajinasi inilah yang membedakan manusia dengan hewan lain termasuk sepupu terdekat kita, simpanse dan monyet hijau. (Di buku disebutnya green monkey. Sesungguhnya gue mbuh apa itu green monkey. Gue terjemahkan literal aja jadi monyet ijo HAHA bodo amat.)

Kalo sebelumnya kita membandingkan manusia jaman prasejarah dengan monyet, sekarang saatnya komparasi manusia prasejarah dengan manusia modern.

Pic 6
Why Are We Sweet-tooth?

Foto di atas menjelaskan kenapa kita manusia modern suka banget sama makanan manis. Penelitian di jaman modern membuktikan bahwa gula membuat makanan kemasan laku. Semakin banyak gulanya, semakin laku produknya. Cek aja semua makanan kemasan di supermarket, hampir pasti mengandung gula (yang banyak). Cek aja roti, biskuit, permen, kecap, saos tomat, mie instan. Tanpa disadari, pasti semua makanan tersebut mengandung gula.

Suka makan manis itu bukan kebiasaan baik. Tapi kita bisa ngeles. Soalnya itu emang turunan dari leluhur kita jaman dulu.

Nenek moyang kita dulu susah banget nemu makanan manis di savana dan hutan tempat mereka tinggal. Makanan manis cuma didapat dari buah-buahan matang, yang emang jarang banget nemunya.

Ya wajar sih, secara emang belum masuk ke Agricultural Revolution kan, belum mulai bercocok tanam.

Makanya begitu mereka nemu buah-buahan matang yang rasanya manis, langsung pada rakus deh tuh semua.

Kelakuan itu menurun ke kita, manusia modern. Biar udah tinggal di apartment tinggi dengan kulkas penuh makanan, tetep aja kelakuan kita kayak masih tinggal di savana. Nemu es krim, sikat. Ada soda, embat. Punya cokelat, ya apalagi selain kunyah lah.

Itu ternyata kelakuan turunan, guys, haha. Alhamdulillah ada alasan kalo gue lagi pingin minum Coca-cola yang gulanya 3 sendok makan itu. Secara gue udah nahan gula harian dengan cuma minum Teh Pucuk yang gulanya 1 sendok makan saja.

Yes, I’m lame like that. Haha.

Tapi gue bersyukur gue hidup di jaman modern. Kalo gue hidup di jaman prasejarah mah kelar deh. Karena terlalu banyak kemampuan yang harus dikuasai kalo lo mau bertahan hidup di jaman prasejarah.

Pic 7
Humans’ Expertise

Kayak sekarang, gue bekerja sebagai akuntan manajemen. Aktivitas gue sehari-hari bikin laporan keuangan. Gue cukup memahami akuntansi aja, yang merupakan bagian kecil dari ilmu yang ada di dunia, untuk bertahan hidup.

Sisanya? Ya gue serahkan ke orang lain yang ahli di bidangnya.

Yakali deh gue kudu menanam padi, menangkap ikan, membangun tempat tinggal sendiri; kayak leluhur kita dulu?

Bisa kurus gue kalo kudu melakukan itu semua, haha.

Kalo gue hidup di jaman prasejarah, mau gak mau ya gue harus bisa melakukan banyak hal demi bertahan hidup. Kudu bisa lari kenceng buat ngehindar dari ancaman dimakan singa. Harus bisa nombak kelinci buat makan malam. Wajib mampu menyelam gak pake tabung oksigen.

……

Kayaknya gue gak berumur panjang deh kalo gue hidup di jaman prasejarah. Untung banget gue hidup di jaman modern.

…….

Sejauh huruf ini diketik, gue cerita udah 1500-an kata lho. Termasuk yang terpanjang dari beberapa postingan belakangan ini. Tapi tetap aja, hal-hal di atas cuma sebagian kecil banget dari yang gue anggap menarik di bagian pertama dari buku ini.

Trus, gue baca buku ini lama banget. Sejam cuma dapet sekitar 10 halaman!

Itu gara-gara gue udah gak biasa baca buku agak mikir dikit. Buku terakhir yang gue baca sampai selesai adalah 50 Tales of Hans Christian Andersen. Buku dongeng anak-anak yang bacanya gak kudu mikir sama sekali, haha. Hans Christian Andersen memang salah satu penulis favorit gue jaman masih kecil dulu.

Selain udah lama banget gak baca buku, gue emang berusaha meresapi dan mengingat-ingat hal menarik yang ada di buku ini. Buat gue ceritain kembali ke orang-orang biar keracunan mau baca buku ini.

…antara keracunan mau baca atau malah mau minta diceritain aja sih sama gue. Biar gampang. 

Kayak bocah-bocah kantor aja ada yang udah pesen buat diceritain. Gue udah sempat cerita ke mereka bagian awal, tapi belum selesai sampai akhir bagian pertama dari buku ini, The Cognitive Revolution.

Doakan gue sempat dan niat terus baca buku ini sampai selesai ya! Niat banget sih sebenernya karena gue tertarik banget sama buku ini.

Semangat!

#2019rajinbaca #2019rajinnulis.

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Sapiens (Part 1): The Cognitive Revolution

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s