Satu Menit di atas Tangga

by gelaph

Berbeda dengan bangunan utama, di gedung kantorku yang sekarang tidak ada lift. Bangunan yang didominasi dengan kaca dan tembok bercat putih ini memang hanya terdiri dari tiga lantai. Jadi sebenarnya tidak ada masalah berarti untukku jika memang harus selalu naik turun melalui tangga biasa.

Ruanganku terletak di lantai tiga. Setiap pagi aku menempuh cara berlari di atas tangga agar dapat tiba di ruangan. Bukan dengan sepatu hak tinggi tentunya, melainkan dengan sepatu karet andalan. Tujuan utama berlari di tangga ini bukan untuk membakar kalori lebih seperti yang sering dianjurkan oleh artikel kesehatan. Tapi karena cukup capek jika tangga ini harus dilewati dengan berjalan pelan sambil tertawa-tawa. Berlari akan membuat kita lupa akan rasa lelah. Tahu-tahu sudah sampai di lantai tiga.

Pagi ini aku hendak berlari seperti biasa. Tak terlihat pemandangan berarti di pangkal anak tangga. Hanya ada serombongan security yang memang biasanya bermarkas di sana.

“Pagi, Pak,” sapaku singkat sebelum memulai olah raga kecil kali ini.

“Pagi, Mbak,” jawab mereka nyaris serentak,

Aku pun memulai langkah di atas anak tangga. Dari lantai satu ke lantai dua, tak terlihat siapa-siapa. Kosong. Ini membuatku semakin leluasa berlari agar cepat sampai di tujuan.

Namun ketika melirik ke atas, di perbatasan lantai dua ke tiga, aku melihat ada seorang ibu yang tampak tertatih-tatih. Ia membutuhkan waktu sekitar satu detik untuk melewati setiap anak tangga. Setiap satu langkah, ia berhenti sebentar. Melangkah satu kali lagi, kemudian berhenti. Perkiraanku, ia menderita penyakit rematik atau semacamnya sehingga terpaksa melangkah perlahan.

Kerudung kuning gadingnya tampak berantakan. Tangan kirinya memegang tas, tangan kanannya mencengkram erat pegangan tangga. Wajahnya terlihat pucat, mungkin karena kelelahan.

Dalam hitungan detik, aku sudah tiba di sebelah kirinya. Tanpa memperlambat langkah, aku menyapa, “Pagi, Bu.”

Ia tersenyum membalas, “Pagi.”

Akupun melanjutkan perjalanan yang tinggal lima-enam anak tangga lagi. Begitu sampai di tujuan, aku menghembuskan napas lega. Sambil berjalan menuju meja, sang otak memproses dua ilmu yang kupelajari sepagi ini.

Yaitu wajib hukumnya untuk tahu batas kemampuan. Jangan terlalu memaksakan diri. Pelan-pelan saja yang penting jelas targetnya. Daripada muntah darah kan? :P

Lalu jangan lupa untuk selalu bersyukur. Tanpa kejadian pagi ini aku mungkin tak ingat bahwa sepasang kakiku sehat dan lengkap. Yang ada hanya menatap sebal mengamati kekurangan yang terlihati di sepanjang kaki. Namanya juga wanita. :P

Well anyway, sudahkah kamu bersyukur atas kakimu hari ini?

Aku, sudah.

:)

4 Comments to “Satu Menit di atas Tangga”

  1. Udaah.. Tiap hari.. Coz tiap hari gw kerja di lantai 3 tanpa lift.. Dan cukup mobile untuk naek turun antar lantai..

  2. Kantor aku juga ada dilantai 3, bedanya ga perlu lari-lari segala ah, biar lambat asal selamat :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: