Mendadak Java Jazz (Part 1)

by gelaph

Udah lama juga kayaknya gue nggak menceritakan pengalaman pribadi gue di blog ini. Akhir-akhir ini kebanyakan pikiran acak abstrak gue yang gue tumpahkan di sini. Gue sekarang mau nyeritain pengalaman gue nge-Java Jazz Fest (JJF) hari Jumat, 2 Maret kemarin.

Jumat, 2 Maret 2012.

16.30 Gue nanyain Mila hari ini dia langsung pulang apa nggak. Ternyata dia bilang dia mau ke Kemayoran, karena dia dapet tiket Java Jazz gratisan dari kantor. Dan huoww, ternyata masih ada satu tiket lagi, lantaran Mbak Mel yang sedianya mau memakai tiket tersebut, mendadak gak jadi, capek katanya. Dia mau datang yang hari Sabtu aja. Gue memutuskan untuk mengambil tiket tersebut walaupun gue sebenernya ngantuk dan nggak ngincer performance siapapun di hari Jumat itu. Boleh deh, gue dateng, daripada bengong di kosan.

17.00 Jam pulang kantor. Gue keluar kantor, menuju tempat pertemuan gue sama Mila dan Medi kalo pulang kantor. Iya, beberapa bulan ini gue emang nggak naik bis kantor lagi. Tapi pergi pulang bareng Mila, Medi, Fantry, dan Puput. Begitu nyampe ke tempat biasa, di depan pos satpam, mobil Mila tiba-tiba keluar karena ada beberapa bis kantor yang mau keluar dari kompleks perkantoran.

Well, gue jadinya agak olah raga dikit, jalan ke luar kompleks kantor, jalan lebih jauh dari biasanya. Gue rasa lemak di badan gue udah kebakar 3 kilo gara-gara itu. Hahaha. Ngarep.

Sesampainya di mobil, ternyata ada Pak Lulus, Adam, dan Deboy selain gue, Mila, dan Fantry yang memang biasa bareng. Ternyata mereka juga mau nge-JJF. Aheyy, the merrier, the better.

17.30 Fantry kresek-kresek buka bungkusan, yang ternyata isinya adalah tahu goreng isi baso yang baunya Masya Allah, enak banget. Tahu goreng baso itu sebenernya tahu goreng biasa, cuma tengahnya diisi daging giling alias baso. Mirip-mirip sandwich. Rotinya diganti tahu. Isinya ya baso itu tadi. Gue dan Mila yang lagi menjalani program diet Mayo hari ke-enam, akhirnya membuka bekal makanan kami sore itu. Daging rebus tanpa garam, bayam rebus, dan selada dengan perasan jeruk. Yammieee…..not. Makan aja deh daripada pingsan kelaperan di Kemayoran. :P

18.05 Jalanan lancar sore itu. Mungkin karena nggak hujan dan mungkin orang-orang belum pada pulang kantor. Entahlah. Deboy pulang dulu ke kosannya yang letaknya di sekitar Kemayoran juga. Pak Lulus menunggu temannya yang janjian nonton bareng. Sementara Adam dan Fantry langsung menukar tiket mereka. Karena yang mereka dapat ternyata baru semacam invitation yang harus ditukarkan dengan tiket masuk. Sementara gue dan Mila mendapat tiket masuk langsung, dari vendor yang ngasih ke kantor gue. Lucky us.

18.30 Kami menuju ke A2 Hall untuk melihat performance Depapepe, duo gitaris dari Jepang. Adam kayaknya udah kebelet banget nonton Depapepe. Terlihat dari langkahnya yang buru-buru kayak lagi ngejar maling.

Di dalam hall, gue melihat ada sepasang cewek cowok yang pelukan erat banget. Kayak kalo tangannya dilepasin, pasangan mereka bakal ambruk ke tanah. Weits sori, gue gak sirik. I had Adam for diemek-emek. Hmmm sorry, WE had Adam for diemek-emek, I mean. Hahaha.

Depapepe ditemani dua additional players. Satu orang memainkan keyboard, satu lagi di perkusi. Atau lebih tepatnya, dia mukul-mukulin sejenis kotak berwarna merah, selain memang ada benda-benda lain sejenis drum yang dia pukul-pukulin. Bukan perkusi kali ya, anggep aja gendang Jepang.

Salah satu personel Depapepe yang bermuka ramah dan lucu serta beralis mirip Sin Chan dan bertopi mirip Ahmad Dhani membuka konser dalam bahasa Indonesia yang agak tertatih-tatih namun tetap pede jaya.

“Perkenalkan nama saya Takuya Miura.”

Tepuk tangan riuh terdengar.

“Saya senang bertemu dengan anda.”

Sorak sorai dan tepuk tangan kembali membahana. Semakin kencang.

“Perkenalkan dia Yoshinari Takuoka. “ si alis Sin Chan ini memperkenalkan rekannya yang dinginnya luar biasa. Rekannya yang butuh kehangatan tampaknya. *plintir-plintir rambut* #selfkeplak

Well okay, back to topic. Si alis Sin Chan kembali berkata yang membuat A2 Hall riuh rendah oleh tepukan tangan dan sorak sorai.

“Kami senang kembali ke Jakarta.”

HUEYYYYYY……. langsung heboh deh. Kebayang kan ramenya kayak apa?

Lalu tanpa banyak basa-basi lagi, mereka menunjukkan kemampuannya bergitar. Bagus. Jauh lebih bagus dari gue yang cuma pernah sekali megang gitar pas SMP dan langsung berdarah jarinya lantaran kena ujung senar. Bodoh. Hahaha.

Walaupun gue gak ngefans-ngefans amat sama Depapepe, tapi gue tau lagu-lagunya, dan itu cukup bikin gue goyang-goyang menikmati alunan musik yang mereka mainkan. Mila? Sama aja doi. Goyang-goyang gak karuan di sebelah gue.

Yang nggak bisa diganggu adalah Adam. Doi sibuk merekam semua tindak-tanduk Depapepe dengan hapenya. Diajak ngomong aja jadi hah heh hah heh mulu. ZZZZZZZ.

Nilai positif yang gue catat dari Depapepe ini selain kemampuan bermusik mereka yang tidak perlu diragukan adalah mereka hangat kepada penontonnya. Berusaha ngomong pake bahasa Indonesia di setiap kesempatan, walaupun nyontek dulu ke kertas, tapi gak papa deh, yang penting usahanya.

19.30 Depapepe selesai. Fantry dan Adam mau makan malam dulu. Gue dan Mila lagi diet. Deboy belum ada kabarnya. Doi belum nyampe kayaknya.

19.45 Gue dan Mila nggak mau ikut Adam dan Fantry makan. Ntar diet kita gagal. Jadilah kita ke ruang sebelah, A1 Hall, yang sedang menampilkan Bobby McFerrin. Beliau menampilkan semacam beatbox yang dibuat jazzy. Dia gak memainkan alat musik apapun. Mulutnyalah yang menjadi alat musik.

Di penampilannya, ia tidak selalu sendirian. Di salah satu penampilannya, ia ditemani seorang lelaki muda yang membantu dia nge-beatbox juga. Kalau di penampilan solonya si McFerrin tampak sangat jazzy, begitu duet dengan lelaki muda ini, warna musiknya jadi lebih riang. Mirip-mirip R&B, tapi versi beatbox.

Ia juga pernah ditemani seorang wanita paruh baya yang bodinya masih aduhai kencengnya bokkk, gue aja takjub. Tapi begitu tau apa yang dilakukan si wanita itu, wajar rasanya kalo bodinya masih sebagus itu di usianya. Dia mengiringi McFerrin dengan tarian!

Jadi, si Mcferrin nge-beatbox, dia menari. Mengikuti tempo dari mulut McFerrin. Semakin cepat musik yang keluar dari mulut McFerrin, semakin cepat juga si wanita ini bergerak. Not bad. At all.

Kok gue udah capek ngetik ya? Ntar deh gue lanjutin ceritanya. Cerita selanjutnya gue bakal ceritain tentang Rendezvouz by Rieka Roeslan, Andien, dan perjalanan pulang yang penuh curcolan. Maklum, udah lewat tengah malem cyiinnn. Hahaha.

Tapi sori ya, curcol bukan buat publik sih. *berubah pikiran*

Cya on my next story related to this JJF. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: