Cerita, Diary, atau Artikel, Nih?

by gelaph

Ada banyak banget gaya nulis. IMSO (In My Sotoy Opinion), at least ada lima gaya nulis: gaya novel, blog, artikel media massa, penelitian, dan iklan. Ini gue kelompokin berdasarkan media penampungnya. Lo nulis, medianya tuh apa? Novel, blog, atau mungkin media massa? Jenis tulisan yang ditaro di blog, tentunya beda dong dengan jenis tulisan yang ditampilkan di novel atau artikel?

Di bawah ini, gue mencoba membuat contoh tulisan untuk  novel, blog, dan artikel media massa; dengan satu tema. (Gue skip untuk contoh penulisan penelitian dan iklan.) Ini bukan contoh yang sempurna sih, tapi coba baca dan resapi perlahan-lahan setiap petikan yang gue bikin. Mudah-mudahan perbedaannya bisa keliatan.

Kutipan 1: Gaya Nulis Ala Novel

Salah satu hobi gue kalo berada di hotel adalah mencet-mencet remote TV. Soalnya, biasanya hotel punya channel yang lengkap. Ya at least lebih lengkaplah daripada channel TV gue di kosan. Dan untungnya, channel TV hotel gue di Sanur ini terbilang sangat lengkap. Mulai dari TV Amerika, Arab, sampai Cina, semuanya ada. Acara yang menyajikan film, musik, sampai ilmu pengetahuan pun tersedia. Makanya, pagi ini gue nungguin anak-anak untuk sarapan sambil melakukan hobi mulia itu. Mencet-mencet remote TV.

Satu. Kosong. Satu.

Angka-angka itu gue tekan berurutan, dan muncullah video klip seorang penyanyi asal Amerika yang mengenakan kostum merah menyala, lengkap dengan tanduk di kepala, dan cat hitam di bawah mata. Hmm, nggak baik kayaknya nonton yang horor-horor di pagi hari. Ganti channel.

Satu. Kosong. Sembilan.

Lalu terpampanglah sepasang kelinci putih yang menggemaskan. Sungguh, gue akan suka sekali menonton acara ini apabila yang ditayangkan adalah cara mereka makan, minum, liburan, atau move on, bukan cara mereka berkembang biak. Well, gue lagi nggak mood ngeliat kelinci kawin, sumpah deh. Pencet remote lagi kali ya.

Satu. Satu. Dua.

HUAAAA…!!!

Spontan gue berteriak kaget sewaktu belasan moncong senapan berbunyi nyaring, menembak tepat ke arah gue. Apalagi suara TV gue setel cukup kencang. “Bokk, ada ya yang nyetel film perang pagi buta begini,”gue mengomel dalam hati, “biar mata melek kali ya, maksudnya?Dasar!

 

Kutipan 2: Gaya Nulis Ala Blog

Gue tuh seneng banget nonton TV di hotel. Soalnya, TV hotel tuh biasanya channel-nya lengkap. Mau nonton apa aja ada. Nggak kayak TV gue di kosan yang channel-nya seadanya. Maklum, kagak pake TV kabel, huehehehe. Waktu gue liburan ke Bali, hotel gue itu channel TV-nya lengkap banget. Lo mau nonton acara musik, film, ilmu pengetahuan, ada semua. Mau nonton TV Cina, Jepang, Arab, Amrik, ada juga.

Makanya, pas gue lagi nungguin anak-anak buat sarapan, gue pasti nonton TV. Channel-nya gue ganti-ganti, suka-suka gue aja.

Pas gue buka channel musik, gue ngeliat ada video klip penyanyi cewek. Dari Amrik sih kayaknya. Gue lupa namanya siapa. Yang pasti, di video klip itu, doi pake baju merah, mengkilat-mengkilat gitu. Trus di kepalanya ada tanduknya. Trus di bawah matanya ada cat item gitu. Setan wannabe sih kayaknya.

Ya gue agak-agak maleslah nonton begituan. Nitemare aja, gitu. Pas gue ganti ke channel lain, ehh ada acara kelinci kawin. Kelincinya sih lucu, imut, tapi kok ya yang disorot pas doi lagi kawin. Kagak pas mereka lagi makan, minum, liburan, atau apa kek. Ih, males banget.

Trus gue ganti channel lagi deh. Dan hyahh.. channel-nya muter film perang. Pagi-pagi, masih ngantuk, disodorin film perang? Gokil juga nih TV. Ada ya, yang muter film perang jam segini? Hmmm…

Kutipan 3: Gaya Nulis Ala Artikel Portal Berita

Anda sering berlibur? Jalan-jalan, belanja, atau sekedar menghabiskan akhir pekan di hotel atau resort luar kota? Untuk Anda yang gemar menikmati fasilitas hotel, mungkin ada yang merasa bahwa acara TV hotel jauh lebih lengkap.

Apabila dilihat dari jenis acara yang ditayangkan, channel TV tersebut dapat dibedakan menjadi acara musik, ilmu pengetahuan, film, dan banyak lagi lainnya. Sementara dari segi negara asal, Anda akan menemukan siaran dari Cina, Jepang, Arab Saudi, bahkan dari Amerika Serikat.

Berikut adalah pilihan channel berdasarkan jenis tayangan yang dapat dijadikan sebagai referensi.

1. Channel Musik

Anda gemar menonton video klip artis mancanegara? Jika benar demikian, maka Channel 101 adalah jawabannya. Dengan menyetel channel ini, Anda akan dihibur oleh penampilan unik dan menarik dari para penyanyi luar negeri.
Salah satunya adalah Lidi Gagu, penyanyi asal Amerika Serikat yang terkenal karena sensasinya. Di video klip terbarunya, Hayuk Ngibing, ia mengenakan kostum berwarna merah elektrik. Sepasang tanduk di kepala dan make-up gelap di bawah mata, melengkapi aksi spektakulernya. Konon, ia menghabiskan jutaan dolar Amerika untuk membuat video klipnya tersebut.

2. Channel Ilmu Pengetahuan

Jika Anda termasuk ke dalam golongan yang ingin mengetahui hal-hal baru, maka pilihan dapat dijatuhkan kepada Channel 109. Pada channel ini, Anda akan disuguhkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Mulai dari sains, sampai biologi.
Channel ini menayangkan cara kelinci berkembang biak. Bagaimana asal mula hewan mamalia ini berkenalan, dekat, sampai akhirnya lahirlah anak-anak kelinci yang lucu dan menggemaskan, seperti halnya kedua orang tua mereka.

3. Channel Film Box Office

Apabila Anda tidak tertarik untuk menonton acara musik dan pengetahuan, mungkin Channel 112 dapat menjadi pilihan tersendiri. Di sinilah pusatnya film-film khas Huliwut beraksi.
Sebut saja serial film perang yang berjudul Perang Parung. Disutradarai oleh Stepen Supirbus, serial ini berisi tentang adu tembak para pemainnya. Film yang dibintangi oleh Anjelina Lelga ini dapat membantu para pemirsanya untuk menyadarkan diri dari kantuk yang menyerang, dikarenakan ia diputar pada pagi hari.

Gimana? Keliatan nggak bedanya? Tanpa basa-basi, yuk mari kita bahas.

Menulis Ala Novel

Saat menulis ala novel, kita dituntut untuk membuat suatu cerita yang menarik, bukan mencurahkan isi hati dan kepala. Menulis novel itu sebenernya kayak lo sedang menceritakan sesuatu ke orang lain, lewat tulisan, namun tidak membosankan. Ada tanggung jawab agar si pembaca menangkap pesan yang hendak lo sampaikan di cerita itu.

Selain itu, ada semacam keharusan yang tidak tertulis bahwa lo harus bisa mempermainkan perasaan pembaca, in a good way.  Seorang novelis harus bisa memberikan emosi di setiap kalimat. Harus mampu membawa pembaca untuk masuk ke dalam tulisan.

Kita harus mikir bolak-balik mikir untuk hal-hal yang ngaruh banget ke pemberian roh tulisan, semacam peletakan tanda baca udah pas atau belum, step by step plotnya udah nyambung apa nggak, karakternya udah kuat apa belum, sampai dengan menentukan variasi dan efektivitas kalimat.

Oleh karena itu, di kutipan 1 lo bisa liat kalo gue menampilkan adegan memencet remote secara perlahan-lahan. Satu demi satu angkanya gue tulis. Itu yang namanya variasi, biar pembaca nggak bosan. Selain itu juga untuk mengatur tempo tulisan, biar pembaca nggak sekedar baca lewat doang gitu. Lagian, dengan paragraf yang dipotong-potong oleh angka-angka kayak gitu, membuat gue nggak harus repot-repot smoothing antar paragraf. Nggak harus mikirin apakah paragraf yang satu dengan paragraf setelahnya, nyambung satu sama lain.

Menulis Ala Blog

Berbeda dengan nulis ala novel, gaya nulis ala blog itu sebenernya kayak nulis diary. Isinya berupa pikiran dan perasaan kita, si penulis. Bedanya, blog lebih membuka peluang untuk berbagi dengan khalayak. Sementara kalo diary, biasanya isinya bersifat rahasia, pake digembok segala.

Karena sifat nge-blog sama kayak nulis diary, kita bisa nulis apa aja di sini. Suka-suka kita. Kita nggak harus mikir apakah tulisan kita ini menarik, apakah tulisan kita ini rapih secara teknis, dan lain sebagainya. Blang bentang aja nulis. Nothing to lose aja gitu. Cerita aja ngalor ngidul kayak lagi cerita ke diri sendiri (dalam hal ini curhat ke diary), atau kayak lagi cerita ke sahabat dekat.

Makanya, kayak yang lo bisa liat di contoh kutipan 2, di sana ada tulisan yang ngasal banget. Berantakan secara teknis, tapi ngalir. Saat lo membacanya, mungkin lo bisa membayangkan kalo gue ada di depan lo, bercerita face-to-face.

Menulis Ala Artikel Media Massa

Nah, kalo nulis artikel ala media massa, itu aturannya beda lagi. Selain menarik, tulisan lo juga harus informatif, bermanfaat bagi pembaca. Tujuan lo menulis artikel ya biar pembaca jadi tahu dengan lebih mendalam mengenai hal yang lo tulis.

Makanya, di kutipan 3, lo bisa ngeliat ada Lidi Gagu dengan Hayuk Ngibing-nya yang menghabiskan jutaan dolar. Ada juga keterangan tambahan bahwa kelinci itu hewan mamalia, yang nggak gue cantumkan pada kedua kutipan sebelumnya. Trus, ada keterangan bahwa film Perang Parung itu disutradarai oleh Stepen Supirbus, dan dibintangi oleh Angelina Lelga. Itu termasuk informasi yang seharusnya ada di tulisan ala artikel.

Selain itu, tulisan ala artikel adalah yang paling ketat dalam tata bahasa dan hal-hal teknis semacam penggunaan tanda baca dan EYD.

Well, at some point, gue mikirnya sih, nulis itu kayak nyanyi.

Pernah nonton ajang pencarian bakat di TV? Salah satu kontestan ada yang suaranya bagus, teknik menyanyinya rapi, tapi ya…biasa aja gitu. Bagus, tapi nggak ada yang istimewa. Sementara ada satu kontestan lagi yang teknik menyanyinya pas-pasan, tapi ia berkarakter. Mungkin karena suaranya memang berbeda, gampang dikenali; atau mungkin juga karena pada saat ia menyanyi, feel-nya dapet. Kita bisa masuk dan menikmati lagu yang mereka bawakan.

Menurut gue, beruntunglah orang-orang yang berkarakter, baik dalam menulis atau menyanyi. Karena mereka “tinggal” belajar tekniknya, toh?

Terakhir, kalo boleh jujur, gue merasa paling kesulitan untuk membuat kutipan pertama. Karena kalo nulis blog, itu intinya be yourself. Nulis artikel itu intinya bermanfaat dan rapih secara teknis. Sedangkan kalo nulis novel, itu intinya harus menarik. Nah, untuk mencapai “menarik”, itu yang menjadi tantangan tersendiri buat gue.

Yah, hidup memang seharusnya penuh tantangan. Karena kalo tantangan itu nggak ada, emangnya akan berasa hidup?

P.S: Gue memang sengaja menulis post ini dengan memberi contoh di depan, dengan sebelumnya mengingatkan untuk membaca pelan-pelan, baru memberikan penjelasan di belakang. Bukan dari awal membuat poin-poin penjelasan, lalu langsung diikuti contoh. Tujuannya sih, biar yang baca mikir dan merasakan bedanya dulu, baru gue jelasin. Hmm.. Katakanlah, gue bereksplorasi.

8 Comments to “Cerita, Diary, atau Artikel, Nih?”

  1. ahahaha, sedap sekali tulisan ibu grahita kali ini, informatif..

    membuat saya berpikir, tulisan saya masuk yang mana ya? hehe

  2. Jujur, gue lbh suka nulis blog. Ngalir. Ga ada mikirin pengulangan kata lah dan segala tetek bengeknya. Tapi, kita kn ga bisa ngarep semua orang paham dgn celotehan verbal kita. Orang kn beda-beda, ukuran bra aja beda-beda (kok jadi ke bra).

    Anyway, dgn nulis novel yang akan dibaca banyak orang, bukan satu dua yang bisa ngerti celotehan kita. So pasti kita harus nulis cerita yang juga mendeskripsikan sesuatu, dan nggak sekedar menarasikan. Bener banget kalau tantangan nulis novel itu ya memainkan emosi pembaca.

    Gue sih percaya, nulis itu 50% bakat, 25% latihan, dan 25% sisanya….ada waktu. :p

    • Iya banget sih. Oh how I love blogging. Gak perlu mikirin plot, gimmick, karakter, teknis ini itu. Gak dikejar2 deadline juga.

      Tapi ya, mungkin saatnya keluar dari comfort zone. Saatnya nulis hal lain selain ngeblog. Novel dan artikel sih pilihannya.

      Emang bener, harus banyak latihan. Banyak nanya. Banyak baca juga sih. Mengamati cara org lain menulis. Gimana caranya mereka mendeskripsikan sesuatu.

      Trus satu lagi, bergaul. Bisa dengan cara memperhatikan temen2 kita lebih detail dari biasanya. Atau bergaul sama orang2 baru, biar bisa dapet ide2 baru. Penulis tanpa ide? Kelar deh.

  3. jadi kakak kapan novel nya keluar?
    gak sabar deh baca tulisan kakak di novelnya.
    #runrunsmall

  4. Menurut hemat saya, menulis blog itu sebaiknya seperti menulis novel dengan POV orang pertama. Itung-itung latian.

    Itu sih menurut hemat saya. Ahem.

    • Bisa bisa. Pantes blog lo kayak baca cerpen, Roy. Sekalian latihan ternyata. Tapi ada beberapa orang yang emang gak mau ‘diatur’ tentang blognya. Jadi prefer nulis ‘ngasal’ aja.

      Kalo gue? Bikin blog khusus cerpen, dong. :))))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: