Lucu?

by gelaph

Sering banget baca joke semacam ini di Twitter, “kalau diperkosa dan tidak bisa melawan, nikmati saja. Anggap saja seks gratis.”

Gue bahkan pernah baca twit orang, ” pahit bener Neng hidupnya. Pernah diperkosa siapa sih waktu kecil?”

Entah kenapa tiap baca joke semacam itu, gue bukannya nyengir geli. Tapi mengernyitkan dahi, seraya berpikir, “sampah gini kok dibikin joke.”

Kenapa gue bilang joke sampah? Ya karena emang demikian. Nggak kurang, nggak lebih.

Sekarang gue mau cerita tentang korban perkosaan Mei 98, si gadis berseprei kembang-kembang. Mungkin kalian pernah dengar ceritanya. Tapi nggak apa-apa deh gue ceritain lagi.

Jadi intinya, si gadis yang gue perkirakan masih remaja, adalah korban perkosaan dengan motif SARA. Ya, ia diperkosa karena semata-mata ia masih keturunan Tionghoa. Ah, double sampah. Sampah satu, perkosaan. Sampah dua, Tionghoa dan pribumi, primitif sekali.

Si gadis Tionghoa ini diselamatkan oleh seorang ibu-ibu yang juga keturunan Tionghoa. (Maafkan istilah primitif tentang Tionghoa dan pribumi ini).

Si ibu melihat si gadis sedang dilecehkan oleh lima lelaki. Iya. Lima lelaki. Walaupun tidak dijelaskan, lima lelaki ini seharusnya pribumi ya. Karena alasan mereka memperkosa kan gara-gara si gadis adalah keturunan Tionghoa.

Baca lagi paragraf di atas dan garis bawahi kata “dilecehkan”. Ya, artikel yang gue baca bilang kalo ia “dilecehkan”. Pilihan kata yang sangat santun. Terlalu santun malah. Mari kita lihat apa maksud kata “dilecehkan” di sini.

Berdasarkan kisah si gadis kepada ibu penyelamat, ia dikerubungi oleh lima lelaki. Satu lelaki memojokkan kepala dan lehernya ke ujung tempat tidur dan berusaha memasukkan paksa alat kelaminnya ke mulut si gadis. Yang empat lagi ngapain?

Yak. Memegangi kaki si gadis dan memperkosanya bergiliran di bawah sana.

Bangsat.

Setelah kejadian tersebut, dia menjadi sangat pendiam. Depresi. Dan selalu menyembunyikan kepalanya di bawah seprei kembang-kembang. Ketakutan.

Ia bahkan perlu melarikan diri ke Australia, atas bantuan si ibu penyelamatnya tadi, hanya untuk menenangkan dirinya. Berbulan-bulan si gadis hidup dalam diam. Dalam keadaan tertekan.

Dan…kenapa ia selalu menyembunyikan kepala dan badannya di balik seprei kembang-kembang?

Itu karena ia diperkosa di atas seprei tersebut. Dan ia berkali-kali, sekuat tenaga, menyelamatkan diri dengan cara menggulungkan diri di dalam seprei. Yang sudah jelas gagal. Seprei itu satu-satunya alat yang bisa ia harapkan untuk menyelamatkan dirinya. Menyelamatkan diri dari kelima setan yang sedang berubah wujud sebagai manusia.

Lalu? Bagaimana kisah si gadis tersebut setelah kejadian naas itu? Di artikel tersebut diceritakan ia memotong rambut dan mengganti identitas, demi membuang sial.

Dan pemerkosanya, apa kabar mereka? Hmmm… Entahlah. Jangan tanya gue. Jangan tanya ke gue hal-hal yang bahkan Google pun nggak tau jawabannya.

Trus, gara-gara membaca artikel ini, gue punya ide untuk menekan angka perkosaan.

Legalisasi lokalisasi pelacuran? Nggak.
Beri pendidikan seks sehingga orang-orang teredukasi untuk melakukan seks bebas namun cerdas? Bukan.

Nggak lain dan nggak bukan, beri hukuman seberat-beratnya untuk orang yang terbukti melakukan perkosaan. Bukan dengan sekian tahun penjara. Tapi dengan…..CTAK! Potong aja alat kelaminnya! Biar berkurang satu pemerkosa di bumi ini. Pun ini diharapkan akan memberi efek jera bagi para calon pemerkosa. Efektif. Dan efisien.

Hal yang gue ceritain di atas, bisa dibaca lengkapnya di sini. Sebuah artikel yang membahas perkosaan dengan pilihan kata yang sangat santun -karena terkait masalah kode etik tampaknya- namun tetap mengantarkan emosi dengan sangat baik. Beda deh sama berita yang judul dan ulasannya sengaja dibikin lebay demi meraup pembaca, tanpa memperhatikan efek psikologis si korban. Toh namanya disamarkan ini, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Dan apabila setelah mengklik link tersebut lo masih menganggap joke tentang perkosaan itu lucu, mungkin lo titip absen waktu Tuhan membagikan salah satu bagian terpenting di manusia.

Iya, lo nggak punya hati.

 

 

3 Comments to “Lucu?”

  1. demi alasan apapun, membaca kisah perkosaan ngga akan pernah gw lakukan. termasuk post loe yg satu ini. :(

  2. Gw setuju banget ama lu Gra.

    Orang yang bisa pake perkosaan sebagai salah satu bahan joke just simply stupid and senseless. Ga peka dan yaaah semua yang lu tulis di atas.

    Sebagai cowok gw juga setuju ama hukuman yang lu bilang.

  3. Potong aja.. beneran..
    Sekarang ada lagi yang baru.. kalo ga mau diperkosa jangan pake baju yang nunjukin pengen diperkosa..
    Sedih ngomongnya.. lebih sedih karena banyak teman seiman yang mengiyakan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: