Fiction and Imagination

6. Kompornya di Mana?

PRANGGG! Suara benda pecah belah terjatuh membuyarkan keheningan malam. Seorang lelaki berusia awal dua puluhan pun segera berjalan menuju lokasi keributan. “Ya ampun, Dek. Pasti kamu masuk lewat jendela dan gak sengaja menyenggol rak piring di sebelahnya ya?” si lelaki menembak langsung gadis berkuncir kuda yang sedang membereskan pecahan beling piring. Seorang wanita berperawakan sedang… Continue reading 6. Kompornya di Mana?

Fiction and Imagination

5. Piring Porselen Paling Cantik

Kematian sendok plastik beberapa saat lalu telah membuat hiruk pikuk tersendiri. Hiruk pikuk yang membuat sebuah piring porselen paling cantik menjadi kesal karena tidurnya terganggu. “Kalian bisa diam gak sih? Aku mau tidur. Kalau kurang tidur nanti flek hitam di tengah badanku ini bisa bertambah.” Sebuah panci yang dituakan menegur, “Kamu kok tidak ada empati… Continue reading 5. Piring Porselen Paling Cantik

Fiction and Imagination

4. Bahkan Sendok Pun Bisa Mati

Sebuah sendok mungil sedang terlelap ketika ada tangan kasar yang meraihnya dari rak piring. Ia lalu digunakan untuk menciduk bubuk hitam pekat yang kemudian ditumpahkan ke dalam cangkir putih berukir kuning. Sambil menguap, sendok yang terbuat dari stainless steel tersebut mengeluh ke sahabatnya di rak piring. “Duh. Salah apa sih gue. Malam-malam begini dibangunin buat… Continue reading 4. Bahkan Sendok Pun Bisa Mati

Fiction and Imagination

3. Dua Jendela

“Aku pulang ya.” Demikian kata sang pemuda tanggung kepada pujaan hatinya. Lawan bicaranya, seorang gadis berkuncir kuda, menggangguk. Mereka baru saja pulang dari berkencan di festival alun-alun kota. Terbuai dengan semaraknya acara, tak ada yang sadar bahwa hari telah larut. “Omong-omong, tadi bukunya jadi dibeli?” sang pemuda bertanya. “Malas. Malas bacanya,”  jawab si gadis singkat.… Continue reading 3. Dua Jendela

Fiction and Imagination

2. Cangkir Kesayangan

Air panas mengucur dari teko. Menghantam bubuk hitam pekat yang telah disendokkan ke dalam cangkir putih berukir kuning. Seorang lelaki menyeruput minuman beraroma memabukkan itu setelah mengaduknya rata. Satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk. Tak terasa, isi cangkir tandas, hanya menyisakan ampas. Sang lelaki yang kecewa pun mulai menggerogoti cangkir putihnya. “Enak juga,” pikirnya riang.… Continue reading 2. Cangkir Kesayangan