Fiction and Imagination

4. Bahkan Sendok Pun Bisa Mati

Sebuah sendok mungil sedang terlelap ketika ada tangan kasar yang meraihnya dari rak piring. Ia lalu digunakan untuk menciduk bubuk hitam pekat yang kemudian ditumpahkan ke dalam cangkir putih berukir kuning. Sambil menguap, sendok yang terbuat dari stainless steel tersebut mengeluh ke sahabatnya di rak piring. “Duh. Salah apa sih gue. Malam-malam begini dibangunin buat… Continue reading 4. Bahkan Sendok Pun Bisa Mati

Fiction and Imagination

3. Dua Jendela

“Aku pulang ya.” Demikian kata sang pemuda tanggung kepada pujaan hatinya. Lawan bicaranya, seorang gadis berkuncir kuda, menggangguk. Mereka baru saja pulang dari berkencan di festival alun-alun kota. Terbuai dengan semaraknya acara, tak ada yang sadar bahwa hari telah larut. “Omong-omong, tadi bukunya jadi dibeli?” sang pemuda bertanya. “Malas. Malas bacanya,”  jawab si gadis singkat.… Continue reading 3. Dua Jendela

Fiction and Imagination

2. Cangkir Kesayangan

Air panas mengucur dari teko. Menghantam bubuk hitam pekat yang telah disendokkan ke dalam cangkir putih berukir kuning. Seorang lelaki menyeruput minuman beraroma memabukkan itu setelah mengaduknya rata. Satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk. Tak terasa, isi cangkir tandas, hanya menyisakan ampas. Sang lelaki yang kecewa pun mulai menggerogoti cangkir putihnya. “Enak juga,” pikirnya riang.… Continue reading 2. Cangkir Kesayangan

Fiction and Imagination

1. Pintu Ajaib

Seorang wanita mengomel panjang pendek lantaran anak perempuannya belum juga pulang padahal malam sudah larut. Dengan kekuatan penuh, ia berteriak kepada sang suami yang sedang menikmati kopi hitamnya. “ANAKMU KE MANA INI, PAK?! KOK BELUM PULANG JUGA?!” Yang diteriaki hanya menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya seolah tak ada gangguan. Sang wanita membuka pintu depan… Continue reading 1. Pintu Ajaib